Kamis, Maret 5, 2026

Harga Minyak Menguat Dipicu Proyeksi EIA Serta Pesimisme Gencatan Senjata

Must Read

Moneter.id –Jakarta – Pada penutupan pekan pagi ini, harga minyak terpantau bergerak stabil cenderung bullish didukung oleh sentimen dari proyeksi positif EIA mengenai permintaan minyak AS tahun 2024 dan meningkatnya pesimisme akan potensi gencatan senjata di Gaza. Meski demikian, rilisnya data ekspor Kuwait bulan Februari serta data manufaktur China membatasi pergerakan harga minyak lebih lanjut.

Dalam laporan yang dirilis hari Kamis (29/2/2024), Energy Information Administration (EIA) melihat bahwa permintaan minyak di AS yang telah melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun pada tahun 2023, diperkirakan akan terus mendekati level tersebut hingga tahun 2024. 

Konsumsi bahan bakar domestik mencapai 20,23 juta bph tahun lalu, yang merupakan level tertinggi sejak 2019, dan untuk tahun ini diperkirakan konsumsi akan terus menguat hingga mencapai rata-rata 20,39 juta bph, tepat di bawah level konsumsi tahun 2019, tambah EIA.

Sentimen positif lainnya datang dari pembicaraan mengenai potensi gencatan senjata di Gaza yang semakin pesimis pasca otoritas kesehatan Gaza pada hari Kamis (29/2/2024) melaporkan bahwa pasukan Israel telah menembak mati lebih dari 100 warga Palestina saat mereka menunggu pengiriman bantuan, namun Israel menyalahkan kematian tersebut pada kerumunan orang yang mengepung truk bantuan, dan mengatakan bahwa para korban terinjak atau tertabrak. 

Presiden AS Joe Biden pada hari Kamis mengatakan bahwa insiden tersebut akan mempersulit perundingan gencatan senjata yang sedang diupayakan saat ini.

Sementara itu, ekspor bahan bakar minyak Kuwait naik untuk bulan kedua di bulan Februari, menurut data pelacakan kapal yang dirilis hari Kamis oleh Kpler dan LSEG, seiring dengan kilang Al Zour yang beroperasi menuju kapasitas penuh di level 615 ribu bph untuk pertama kalinya pada bulan Februari. 

Kenaikan ekspor ini berpotensi mempengaruhi keputusan produksi OPEC+ pada pertemuan awal Maret karena Kuwait sendiri tercatat merupakan produsen terbesar keempat di OPEC dan terbesar kesepuluh secara global.

Turut membebani pergerakan harga minyak, aktivitas manufaktur China pada bulan Februari mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut, sebuah survei pabrik resmi menunjukkan pada hari Jumat. 

Presiden China Xi Jinping pada hari Jumat (1/3/2024) memimpin pertemuan badan pembuat kebijakan ekonomi utama untuk mendukung produsen melalui peningkatan peralatan dan menurunkan biaya logistik, sebagai bagian dari upayanya untuk menyeimbangkan kembali perekonomian di negara ekonomi terbesar kedua dunia itu.

Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level $80 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level $76 per barel.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Metrodata Electronics Perkuat Talenta Digital Sebagai Fondasi Transformasi AI di Indonesia

PT Metrodata Electronics Tbk (MTDL), emiten Teknologi Informasi (TI) dan peralatan komunikasi terbesar di Indonesia, kini tengah mengoptimalkan pemanfaatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img