Moneter.co.id – Bank
Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Solo menyosialisasikan transaksi nontunai
untuk ruas jalan tol Solo-Kertosono di Acara Hari Bebas Kendaraan di Jalan
Slamet Riyadi, Solo, Minggu (19/11).
“Acara ini bertujuan sebagai
salah satu bentuk edukasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat sehingga
lebih siap dalam melakukan pembayaran di jalan tol dengan transaksi
elektronik,” kata Deputi Direktur BI Kantor Perwakilan Solo Bandoe
Widiarto.
Menurutnya, implementasi
elektronifikasi pembayaran jalan tol bertujuan untuk mendukung program gerakan
nasional nontunai (GNNT) dalam rangka menciptakan efisiensi perekonomian
nasional.
“Program GNNT merupakan program
yang diprakarsai BI, ditujukan agar mampu mendorong perubahan metode pembayaran
transaksi yang semula masih tunai menjadi nontunai dengan menggunakan media
elektronik. Hal ini berkaitan dengan peran BI sebagai otoritas sistem
pembayaran yang mengatur dan mengembangkan sistem pembayaran,” katanya.
Selain elektronifikasi pembayaran jalan
tol, dikatakannya, implementasi transaksi nontunai di Kota Solo juga sudah
dilakukan pada jenis transaksi lainnya, seperti parkir di Area Singosaren,
retribusi di pasar tradisional, tiket kendaraan umum, pembayaran pajak, dan
warung gotong rotong (warong) untuk pemberian bantuan sosial.
Implementasi elektronifikasi ini
merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap program Solo Menuju Smart City
pada 2018. Meski jalan tol Solo-Kertosono merupakan satu-satunya jalan tol di
Solo Raya yang rencananya baru akan beroperasi pada 2018, BI Solo bersama
dengan operator tol dan perbankan tetap berinisiatif untuk melakukan kampanye
elektronifikasi sedini mungkin kepada masyarakat, katanya.
Menurut dia, hal tersebut merupakan
salah satu bukti kesiapan, kesungguhan, dan komitmen perbankan untuk memenuhi
kebutuhan uang elektronik dari masyarakat serta bagi PT SNJ dalam memberikan
layanan pembayaran nontunai saat jalan tol efektif dibuka.
“Implementasi elektronifikasi ini
diharapkan dapat memecahkan permasalahan di jalan tol terkait antrian yang
diakibatkan lamanya transaksi dengan tunai. Penggunaan uang elektronik dapat
menghemat waktu dari yang semula 10 detik untuk tunai menjadi 2 detik,”
katanya.
Selain itu, dikatakannya, penggunaan
uang elektronik juga dapat mengurangi risiko uang palsu dan juga risiko
keamanan bagi masyarakat pengguna.
Sementara itu, Bandoe mengatakan
kegiatan kampanye tersebut merupakan kegiatan yang kedua setelah kampanye
pertama yang diadakan pada 1 Oktober 2017 di Pintu Tol Ngasem dan Klodran.
Pada sosialisasi tersebut juga
dilakukan pengenalan masing-masing produk uang elektronik oleh perbankan, yaitu
E-Money dan E-Toll dari Bank Mandiri, Brizzi dari BRI, Blink dari BTN, E-Bima
dari Bank Jateng, Flazz dari BCA, dan Tap Cash dari BNI.
“Ke depannya, Bank Indonesia akan
terus berkoordinasi dan menindaklanjuti bersama pihak-pihak terkait dalam
rangka kesiapan kartu uang elektronik termasuk jumlahnya, kesiapan mesin reader perbankan,
kesiapan mesin top
up kartu, serta kesiapan masyarakat
dalam elektronifikasi pembayaran jalan tol antara lain dengan melaksanaan
sosialisasi termasuk simulasi tapping,” katanya. (SAM/Ant)




