Rabu, Januari 14, 2026

Indonesia-Vietnam, Tingkatkan Ekspor dan Perdalam Investasi

Must Read

Moneter.co.id – Indonesia dan Vietnam menaruh perhatian besar pada peningkatan perdagangan dan investasi bilateral, di samping kerja sama peningkatan kualitas lada dan pengelolaan pasar karet dunia. 

Hal itu merupakan beberapa isu yang dibahas Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita dengan mitranya Menteri Perdagangan dan Perindustrian Vietnam Tran Tuan Anh pada Pertemuan ke-7 Indonesia–Viet Nam Joint Commission on Economic, Science, and Technical Cooperation (JC-ESTC), Sabtu (12/8), di Hanoi, Vietnam. 

“Neraca perdagangan kita dengan Vietnam cenderung membaik, dari minus USD 966,5 juta pada tahun 2014 menjadi minus USD 421, juta di tahun 2015 dan minus USD 182,9 juta pada tahun 2016. Sementara untuk periode Januari–Mei 2017 ini neraca sementara kita dengan Vietnam positif USD 5,1 juta. Kita ingin menjaga bahkan mendorong momentum ini agar neraca perdagangan kita dengan Vietnam semakin membaik,” kata Mendag Enggar. 

Mendag menegaskan pentingnya kerja sama Indonesia dan Vietnam di bidang investasi. Investasi Indonesia di Vietnam antara lain mencakup sektor properti, semen, dan eksplorasi batu bara. 

“Kita meminta perhatian khusus Pemerintah Vietnam untuk tidak menciptakan iklim yang dapat merugikan investasi Indonesia di Vietnam, tetapi justru mendorong lebih besar lagi. Sebaliknya, kita juga mencatat minat Vietnam untuk berinvestasi di sektor batu bara di Indonesia, yang tentunya kita sambut baik,” ujar Enggar.  

Pertemuan tersebut untuk membahas isu-isu yang menjadi kepentingan kedua negara. Pertemuan JC-ESTC sepakat untuk mendorong kerja sama di berbagai bidang, mulai dari promosi ekspor, kerja sama industri, investasi, energi (gas dan minyak), pertanian, perikanan, transportasi, keuangan, perbankan dan telekomunikasi, serta kerja sama peningkatan kualitas lada. 

Mengingat Vietnam telah menjadi produsen utama karet dunia, Mendag juga menyampaikan ajakan kepada Menteri Perdagangan dan Industri Vietnam agar bergabung ke dalam International Tripartite Rubber Council yang beranggotakan Indonesia, Malaysia, dan Thailand.  

JC-ESTC merupakan forum pertemuan rutin antara Menteri Perdagangan RI dengan Menteri Perdagangan dan Perindustrian Vietnam yang dibentuk pada tahun 1990 untuk meningkatkan kerja sama di bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknik, termasuk di dalamnya pengembangan investasi dan perluasan peluang bisnis antara Indonesia dan Vietnam.   

Pertemuan ini memiliki arti penting karena Vietnam menargetkan diri untuk menjadi “ASEAN manufacturing hub” sejak bergabung dalam Trans-Pacific Partnership Agreement (TPP) dan berhasil menarik banyak investasi asing.

“Strategi kita adalah merangkul Vietnam dengan memperkuat posisi negara ini sebagai salah satu simpul utama jaringan suplai regional Indonesia di ASEAN. Ini strategi yang lebih praktis bagi Indonesia daripada mencoba menyaingi Vietnam secara frontal,” ucar Mendag Enggar. 

Indonesia mengangkat masalah akses pasar ke Vietnam, antara lain untuk produk obat-obatan, batu bara, daging Wagyu, dan bibit telur untuk ditetaskan. Sementara Vietnam menyoroti kebijakan pengamanan perdagangan Indonesia, importasi hortikultura, dan kandungan lokal.  

“Pasar Vietnam adalah terbesar ketiga di ASEAN setelah Indonesia dan Filipina, yakni 93,3 juta jiwa. Kelas menengah sedang tumbuh dengan usia produktif mencapai 70% dari total penduduk. Karena itu, Indonesia perlu memberi perhatian khusus pada Vietnam bukan saja karena potensi ekonominya sebagai pasar, tetapi juga sebagai tujuan investasi untuk memasuki negara lain yang memiliki FTA bilateral dengan Vietnam,” pungkas Mendag.  

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai total perdagangan bilateral kedua negara pada tahun 2016 mencapai USD 6,3 miliar. Neraca perdagangan Indonesia-Vietnam pada tahun 2016 defisit bagi Indonesia sebesar USD 182,9 juta.  

Ekspor Indonesia ke Vietnam pada periode Januari-Mei 2017 tercatat sebesar USD 1,40 milliar atau naik 35,32% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 1,03 milliar. Sementara itu, impor Indonesia dari Vietnam pada periode Januari-Mei 2017 mencapai nilai USD 1,39 miliar, atau naik 3,98% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai USD 1,34 miliar. 

Namun, pada paruh pertama tahun 2017 terlihat bahwa produk otomotif dari Indonesia mulai memasuki pasar Vietnam dalam jumlah lebih besar dibanding periode yang sama tahun 2016. (Top)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img