Moneter.id – Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menegaskan
bahwa pemerintah pusat telah menggelontorkan dana sebesar Rp400 triliun untuk
pengembangan infrastruktur sepanjang 2018. Angka ini naik dua kali lipat
lebih daripada jumlah pada empat tahun lalu yang mencapai Rp160 triliun,
sehingga mendorong perputaran uang di desa.
“Pemerintah pusat bukan menghabiskan uang, namun
bagaimana penempatan uang dengan jumlah yang besar itu harus tepat sasaran agar
uang berputar di desa,” kata Presiden Jokowi saat membuka Temu Karya
Nasional Gelar Teknologi Tepat Guna ke-XX dan Pekan Inovasi Perkembangan Desa
dan Kelurahan Tahun 2018 di Kawasan Garuda Wisnu Kencana, Bali, Jumat (19/10).
Kepala Negara menyatakan pengembangan infrastruktur itu
penting agar perputaran dana jangan kemana-mana, namun semakin besar
perputarannya untuk meningkatkan kesejahteraan di desa.
“Untuk menyejahterakan ekonomi kerakyatan dalam
pedesaan, pemerintah juga akan mengajukan dana opersional desa dan kelurahan se-Indonesia
untuk menghidupkan titik ekonomi baru,” katanya.
Selain itu, Presiden meminta seluruh pemerintah daerah untuk
meninggalkan cara kerja manual dalam sistem pemerintahannya. “Masuk ke
aplikasi sistem yang cepat, biar gampang dikontrol, yang gampang dicek,”
katanya.
Menurut dia, dengan adanya revolusi industri 4.0, maka pemerintah
daerah harus mengikuti perkembangan teknologi dan menerapkannya dalam kinerja
sistem pemerintahan di daerah. Apabila pemerintah daerah tidak mengikuti
perkembangan teknologi dan mengurangi kesejahteraan masyarakat di Indonesia
maka akan tertinggal dari negara lain.
“Hati-hati, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten,
pemerintah desa harus tahu dan bisa mengantisipasi ini agar kita tidak
tertinggal oleh negara-negara lain dan kita tidak kalah berkompetisi dengan
negara lain. Ingat, (revolusi industri 4.0) ini sudah bergerak, bukan akan,
(tapi) sudah bergerak,” katanya.
Oleh karena itu, Presiden meminta seluruh aparat pemerintah
daerah untuk mengikuti kecenderungan/tren perkembangan teknologi, mulai dari
kecerdasan buatan (artificial intelligence), tenaga robot, “big data”
dan realitas maya (virtual reality).
“Kalau tidak tahu, kita akan tertinggal dari negara lain
yang bergerak sangat cepat. Kita harus tahu cryptocurrency, bitcoin itu apa,
harus tahu, sehingga manajemen pemerintahan ini dibawa kemana, kita ngerti
semuanya,” ujar Presiden.
(TOP/Ant)




