Senin, Agustus 24, 2026

Kredit Tumbuh 13%, BI Catat Uang Beredar Juli 2026 Capai Rp10.371 Triliun

Must Read

Pertumbuhan likuiditas perekonomian Indonesia pada Juli 2026 tetap terjaga meski mengalami perlambatan. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi uang beredar dalam arti luas atau M2 mencapai Rp10.371,1 triliun, tumbuh 8,3% secara tahunan (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Juni 2026 sebesar 8,7% yoy.

Departemen Komunikasi Bank Indonesia melalui siaran pers yang disampaikan Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso pada Senin (24/8/2026) menyebutkan, pertumbuhan M2 pada Juli 2026 ditopang oleh perkembangan uang beredar sempit atau M1 serta uang kuasi.

M1 yang memiliki pangsa 57% terhadap M2 tercatat Rp5.908,7 triliun atau tumbuh 10% yoy. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,8% yoy.

“Perkembangan M1 dipengaruhi oleh pertumbuhan giro rupiah sebesar 10,9% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan bulan Juni 2026 sebesar 10,4% (yoy),” tulis BI.

Pertumbuhan M1 juga ditopang oleh tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu yang tetap tumbuh 6,8% yoy. Sementara itu, uang kartal yang beredar di luar bank umum dan BPR mengalami perlambatan pertumbuhan dari 15,9% yoy menjadi 15,7% yoy.

Berbeda dengan M1, pertumbuhan uang kuasi mengalami perlambatan. Pada Juli 2026, uang kuasi tercatat Rp4.375,9 triliun atau tumbuh 5,6% yoy, turun dari 6,9% yoy pada Juni.

Perlambatan terutama dipengaruhi oleh simpanan berjangka yang pertumbuhannya turun menjadi 4,6% yoy dari sebelumnya 6%. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menahan laju pertumbuhan M2 secara keseluruhan.

Meski pertumbuhan M2 melambat, penyaluran kredit perbankan justru menunjukkan akselerasi. BI mencatat kredit yang disalurkan perbankan pada Juli 2026 mencapai Rp8.970,2 triliun atau tumbuh 13% yoy, naik dari pertumbuhan 12,1% yoy pada Juni.

“Perkembangan M2 pada Juli 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat,” jelas BI.

Akselerasi kredit terjadi pada debitur korporasi maupun perorangan. Kredit kepada korporasi tumbuh 20,9% yoy pada Juli 2026, meningkat dari 19,3% yoy pada Juni. Sementara kredit kepada perorangan tumbuh 3,6% yoy dari 3,5% yoy pada bulan sebelumnya.

Berdasarkan penggunaannya, penguatan kredit terutama berasal dari Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI). KMK tumbuh 11,6% yoy, meningkat dari 9,6% yoy pada Juni. Pertumbuhan tersebut didukung oleh penyaluran kredit ke sektor listrik, gas dan air bersih, industri pengolahan, serta konstruksi.

Kredit Investasi bahkan tumbuh 23,1% yoy, lebih tinggi dibandingkan 22,5% yoy pada Juni. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh penyaluran kredit ke sektor konstruksi dan jasa-jasa.

Sementara itu, kredit konsumsi belum mengikuti penguatan kredit produktif. Kredit Konsumsi (KK) pada Juli 2026 tumbuh 5,3% yoy, melambat dari 5,7% yoy pada bulan sebelumnya.

Perlambatan kredit konsumsi dipengaruhi oleh kredit kepemilikan rumah dan kredit multiguna yang masing-masing tumbuh 4,3% yoy dan 7,6% yoy. Di sisi lain, kredit kendaraan bermotor masih terkontraksi sebesar 10% yoy.

Penguatan kredit juga terlihat pada sektor properti. Penyaluran kredit properti tumbuh 18,4% yoy pada Juli 2026, meningkat dari 17,6% yoy pada Juni.

Kredit konstruksi menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan 49,7% yoy, sedangkan kredit real estat tumbuh 16% yoy. Pertumbuhan keduanya meningkat dari bulan sebelumnya yang masing-masing sebesar 47,1% yoy dan 14% yoy.

Adapun KPR dan KPA tumbuh sedikit melambat menjadi 4,3% yoy dari 4,4% yoy pada Juni.

Sektor UMKM juga mulai mencatat perbaikan. Kredit UMKM tumbuh 1,6% yoy pada Juli 2026, meningkat dibandingkan pertumbuhan 1% yoy pada Juni.

Pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan kredit pada seluruh skala usaha. Kredit mikro tumbuh 2,1% yoy, kredit kecil 0,7% yoy, dan kredit menengah 2% yoy.

Dari sisi penggunaan, akselerasi kredit UMKM terutama bersumber dari kredit investasi yang tumbuh 14,2% yoy. Namun, kredit modal kerja masih mencatat kontraksi 3,8% yoy meski mengalami perbaikan.

Di tengah akselerasi kredit, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) justru mengalami perlambatan. DPK pada Juli 2026 tercatat Rp9.666,9 triliun atau tumbuh 7,7% yoy, turun dari 8,1% yoy pada Juni.

Perlambatan terutama disebabkan oleh pertumbuhan simpanan berjangka yang turun menjadi 4,8% yoy dari 6,2% yoy. Sementara itu, giro tumbuh lebih tinggi menjadi 10,5% yoy dari 10,2% yoy dan tabungan relatif stabil sebesar 8,2% yoy.

Berdasarkan kelompok nasabah, perlambatan DPK terutama terjadi pada korporasi yang tumbuh 12,5% yoy dari 12,7% yoy pada Juni. Adapun DPK perorangan relatif stabil dengan pertumbuhan 2,8% yoy.

Dari sisi biaya dana, rata-rata tertimbang suku bunga kredit pada Juli 2026 meningkat menjadi 8,86% dari 8,79% pada Juni. Suku bunga simpanan berjangka juga mengalami kenaikan pada seluruh tenor.

Sementara itu, uang primer M0 adjusted meningkat lebih cepat. BI mencatat M0 adjusted pada Juli 2026 sebesar Rp2.254,5 triliun atau tumbuh 17,1% yoy, meningkat dari 13,8% yoy pada Juni.

BI menyebut pertumbuhan M0 adjusted tersebut telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam pengendalian moneter. Kondisi ini menunjukkan likuiditas primer tetap tumbuh kuat di tengah perlambatan pertumbuhan M2.

Data Juli 2026 memperlihatkan kondisi likuiditas perbankan masih mendukung ekspansi pembiayaan, terutama untuk sektor produktif. Akselerasi kredit hingga 13% yoy menjadi sinyal bahwa penyaluran dana ke dunia usaha terus menguat, meski penghimpunan DPK dan uang kuasi mulai menunjukkan perlambatan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Expo 2026 Buka Rangkaian di Surabaya, BCA Genjot Pembiayaan Properti dan Otomotif

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membuka rangkaian BCA Expo 2026 di Surabaya. Gelaran yang berlangsung pada 21–23 Agustus...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img