Rabu, Januari 14, 2026

Menebak Kartel Dunia Penerbangan Nasional

Must Read

Moneter.id – Polemik mahalnya harga tiket untuk penerbangan domestik
masih belum reda
meski telah ada komitmen dari perusahaan
penerbangan untuk menurunkan harga tiket. Hal ini dinilai oleh Komisi Pengawas
Persaingan Usaha (KPPU) sebagai praktik penetapan harga secara bersama-sama dan
melanggar aturan dalam UU No. 5 Tahun 1999.

Pasalnya, jika mereka akan menurunkan harga secara
bersama-sama, maka memungkinkan juga industri penerbangan melakukan kenaikan
harga secara bersama-sama pula. Tindakan ini mengarah pada perilaku kartel.

Bisnis penerbangan di Indonesia memiliki
pemain-pemain dengan penguasaan pangsa pasar yang sangat besar. Lion Air yang
bergerak di bisnis Low
Cost Carrier (LCC) sudah
mulai merajai sejak 2008 jauh meninggalkan Garuda Indonesia.

Pada tahun tersebut juga ditandai dengan
merosotnya kinerja Batavia Air, Mandala, dan Merpati. Alhasil Lion Air dengan
harga yang relatif lebih murah bisa merajai industri penerbangan tanah air.
Dilihat secara Group, Garuda Indonesia dan Lion Air bersaing ketat pada periode
2009-2015.

Namun Lion Air Group tetap yang memimpin dengan
pangsa pasar lebih dari 45% hingga pada 2017, pangsa pasar Lion Air Group sudah
mencapai 50%. Sedangkan Garuda Indonesia mulai menurun semenjak 2015. Faktor
perubahan manajemen disinyalir menjadi penyebab menurunnya pangsa pasar
perusahaan BUMN ini.

Perilaku kartel yang dilakukan oleh perusahaan
penerbangan domestik dapat diduga dengan melihat konsentrasi pasar yang
mengarah pada bentuk pasar oligopoli (bahkan cenderung duopoli).

Dilihat dari Tingkat Konsentrasinya, kecurigaan
adanya duopoli didasarkan pada tingkat concentration ratio di industri ini mencapai
83% (2017). Penguasaan pasar yang mencapai 83% membuat kedua perusahaan teratas
bebas untuk menentukan harga ataupun kuantitas dari penerbangan.

Hal ini semakin diperparah dengan bergabungnya
Sriwijaya Air Group ke dalam Garuda Indonesia Group yang semakin memperbesar
tingkat konsentrasi pasar pada dua group penerbangan nasional tersebut. Air
Asia tidak akan mampu menembus pangsa pasar mereka berdua.

Dengan tingkat penguasaan pangsa pasar yang begitu
hebat dari dua perusahaan maskapai tersebut, kedua perusahaan dapat dengan
mudah mengatur harga.
Pada pangsa pasar LCC, seharusnya
Lion Air mempunyai kekuatan untuk mengatur harga terlebih dahulu, namun justru
Citilink yang menaikkan harga duluan.

Begitu juga di pasar Full Service Carrier (FSC), justru Batik Air yang duluan menaikkan
harga. Dalam teori seharusnya yang memegang pangsa pasar terbanyak menjadi
penentu harga duluan, namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Teman-teman dari INACA berpendapat bahwa faktor
harga avtur menjadi penyebabnya. Namun data menunjukkan bahwa harga avtur di
Bandara Soekarno-Hatta yang dipasok oleh Pertamina justru lebih murah
dibandingkan dengan Shell yang menjual avtur di Singapura (Changi) dan
Malaysia. Bahkan harga avtur diakui Kementerian BUMN terus menurun sejak
November 2018 lalu.

Hal
ini senada dengan penurunan harga minyak dunia pada akhir tahun 2018 hingga
awal tahun ini. Jadi Harga avtur yang memang mencapai 40
hingga 45%
dari total biaya perusahaan, bukan menjadi penyebab mahalnya harga tiket
pesawat.

 

Oleh: Nailul Huda

Peneliti
Center of Innovation and Digital Economy

Institute for Development of
Economics and Finance (INDEF)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img