Moneter.id –
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
menyambut baik adanya upaya industri makanan dan minuman (Mamin) di Indonesia
yang terus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam lokal, salah satunya
adalah sektor pengolahan kopi. Langkah hilirisasi ini dinilai membawa efek
berantai yang luas bagi perekonomian nasional.
“Contohnya PT Mayora Indah Tbk, melalui
permen Kopiko menjadi produk nomor satu di dunia. Bahkan, Kopiko juga menjadi
salah satu kebutuhan astronot di luar angkasa. Selain itu, produk kopi instan
Torabika yang juga diminati oleh konsumen mancanegara,” ungkapnya di Tangerang,
Banten, Senin (18/2).
Untuk itu, Airlangga menyatakan,
pihaknya terus mendorong diversifikasi produk industri untuk mengisi pasar
ekspor. “Kami melihat industri semakin agresif untuk membuka akses pasar baru dan
meningkatkan nilai ekspornya. Hal ini seiring komitmen pemerintah menciptakan
iklim usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan termasuk prosedur
ekspor,” tuturnya.
Di kancah
global, ekspor produk kopi olahan nasional terus meningkat setiap tahunnya.
Pada 2016, ekspornya mencapai 145 ribu ton atau senilai USD428 juta, kemudian
meningkat hingga 178 ribu ton atau senilai USD487 juta di tahun 2017. Pada
2018, terjadi lonjakan peningkatan ekspor hingga 21,49% atau sebanyak 216 ribu
ton dengan peningkatan nilai 19,01% atau mencapai USD580 juta.
Ekspor tersebut
didominasi oleh kopi olahan berbentuk instan sebesar 87,9% dan sisanya berbasis
ekstrak dan essence. Tujuan ekspor utama industri pengolahan kopi nasional,
antara lain Filipina, Malaysia, Iran, China dan Uni Emirat Arab.
Airlangga juga menyebutkan, Indonesia
merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil,
Vietnam, dan Kolombia. Hal ini menjadi potensi pengembangan industri pengolahan
kopi di dalam negeri.
“Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton
pada 2017 atau 8% dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84% merupakan
kopi jenis robusta dan 27,16% kopi jenis arabika,” ujarnya.
Pada 2017, tercatat ada 101 perusahaan
kopi olahan yang meliputi skala besar dan sedang dengan jumlah penyerapan
tenaga kerja sebanyak 24 ribu orang dan total kapasitas produksi lebih dari 260
ribu ton per tahun.
Selain itu, Indonesia juga memiliki
berbagai jenis kopi specialty yang
dikenal di dunia, termasuk Luwak Coffee dengan rasa dan aroma khas sesuai
indikasi geografis yang menjadi keunggulan Indonesia.
Hingga saat ini, sudah terdaftar
sebanyak 24 indikasi geografis untuk kopi Indonesia, di antaranya Kopi Arabika
Gayo, Kopi Arabika Toraja, Kopi Robusta Pupuan Bali, Kopi Arabika Sumatera
Koerintji, Kopi Liberika Tungkal Jambi, dan Kopi Liberika Rangsang Meranti.
Dalam rangka meningkatkan kinerja
industri pengolahan kopi nasional di tengah menghadapi era globalisasi
perdagangan dan pasar bebas, diperlukan upaya strategis guna menggenjot daya
saing dan produktivitasnya.
Langkah tersebut, antara lain melalui
penggunaan teknologi yang meningkatkan efisiensi dan inovasi, peningkatan
kualitas produk dengan penerapan sistem manajemen mutu dan keamanan pangan,
serta peningkatan SDM seperti barista, roaster,
dan penguji cita rasa atau cupper.




