Jumat, Juni 19, 2026

Potensi Ekspor Kakao Indonesia Masih Terbuka US$1 Miliar, AS hingga Malaysia Jadi Target

Must Read

Prospek ekspor kakao Indonesia masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar di tengah tingginya permintaan global dan terbatasnya pasokan bahan baku dunia. International Trade Centre (ITC) memperkirakan masih terdapat potensi ekspor kakao senilai sekitar US$1 miliar yang dapat dioptimalkan Indonesia, terutama ke pasar Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia.

Peluang tersebut muncul seiring menguatnya daya saing industri pengolahan kakao nasional. Kepala Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan struktur ekspor kakao Indonesia saat ini semakin didominasi produk olahan bernilai tambah tinggi, sehingga mampu memberikan kontribusi ekonomi yang lebih besar dibandingkan ekspor bahan baku.

“Hal ini menunjukkan semakin kuatnya daya saing industri kakao nasional sekaligus memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi Indonesia,” ujar Rini dalam keterangannya, Rabu (17/6).

Sepanjang 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor kakao Indonesia mencapai US$3,5 miliar atau meningkat 36% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terjadi meski volume ekspor tercatat turun sekitar 2%, seiring kenaikan rata-rata harga kakao global sebesar 6%.

Menurut Rini, terbatasnya pasokan kakao dunia membuat harga komoditas tersebut bertahan pada level tinggi dan menjadi faktor pendukung kinerja ekspor Indonesia. Produk olahan berupa lemak dan minyak kakao menjadi penyumbang terbesar dengan nilai mencapai US$2,2 miliar atau sekitar 62% dari total ekspor kakao nasional.

“Kenaikan harga terjadi di tengah terbatasnya pasokan kakao global yang menjaga harga komoditas tetap berada pada level relatif tinggi. Kondisi ini turut mendorong kinerja ekspor kakao Indonesia, yang didominasi produk olahan bernilai tambah sehingga memiliki daya saing kuat di pasar global,” kata Rini.

Amerika Serikat dan India menjadi pasar utama kakao Indonesia sepanjang tahun lalu dengan nilai ekspor masing-masing mencapai US$619 juta dan US$618 juta. Sementara Tiongkok berada di posisi ketiga dengan nilai ekspor sebesar US$446 juta. Ketiga negara tersebut mencatat pertumbuhan permintaan yang signifikan, dengan kenaikan ekspor ke Amerika Serikat mencapai 141%, ke India 196%, dan ke Tiongkok 105%.

Di pasar global, Indonesia menempati posisi ke-12 eksportir kakao dunia dengan pangsa sekitar 3% atau senilai US$2,6 miliar pada 2024. Posisi tersebut masih berada di bawah negara-negara eksportir utama seperti Jerman, Belanda, dan Pantai Gading.

Rini menilai peluang peningkatan ekspor ke depan akan ditopang oleh penguatan harga kakao global, permintaan internasional yang tetap tinggi, serta perkembangan hilirisasi yang membuat industri pengolahan domestik lebih kuat dan stabil. Dengan kondisi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk terus memperbesar nilai tambah dan memperluas pangsa pasar kakao di pasar internasional.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Jangan Anggap Wajar, Sering Buang Air Kecil Malam Hari Bisa Jadi Tanda Pembesaran Prostat

Kebiasaan sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil kerap dianggap sebagai hal yang lumrah seiring bertambahnya usia....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img