Senin, Mei 4, 2026

Mirae Asset Sekuritas Beberkan Strategi Menjaga Stabilitas Pasar Saat Gejolak Global

Must Read

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pemulihan kepercayaan investor di tengah tingginya volatilitas global tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pasar. Faktor yang lebih penting adalah predictability kebijakan serta sinergi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, dan energi.

Pandangan tersebut disampaikan Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam forum ekonomi The Forum dan Investor Daily Round Table yang digelar di Jakarta belum lama ini.

Dalam paparannya, Rully menyoroti pergerakan IHSG sepanjang 2025 hingga awal 2026 yang sempat mencapai level all-time high (ATH). Menurutnya, kenaikan tersebut tidak sepenuhnya didukung fundamental ekonomi yang kuat, melainkan lebih banyak dipengaruhi faktor teknikal terkait MSCI. Kondisi itu menciptakan diskoneksi antara pergerakan pasar saham dan kondisi makroekonomi riil sehingga membuat pasar lebih rentan ketika tekanan eksternal meningkat.

Memasuki 2026, tekanan global semakin meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah Brent dan pelemahan rupiah yang bergerak di kisaran Rp17.270–Rp17.304 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/4/2026).

Mirae Asset Sekuritas menilai kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah asumsi makro pemerintah untuk kuartal II hingga IV 2026 meleset signifikan, terutama terkait asumsi nilai tukar dan harga minyak yang telah melampaui target APBN. “Indonesia masih tumbuh positif, namun dengan adanya shock global ini, penyesuaian proyeksi harus dilakukan lebih cepat,” ujar Rully.

Dari sisi sektoral, Mirae Asset Sekuritas melihat sektor manufaktur menjadi salah satu sektor yang paling rentan, khususnya industri yang bergantung pada bahan baku berbasis plastik. Kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga energi diperkirakan akan meningkatkan biaya produksi secara signifikan, terutama bagi sektor packaging dan industri turunannya. Di sisi lain, sektor komoditas seperti emas, logam, dan pertambangan, serta sektor telekomunikasi, dinilai masih memiliki ketahanan yang relatif lebih baik di tengah tekanan pasar saat ini.

Selain itu, Rully menilai langkah SRO (Self-Regulatory Organization) dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham menjadi sentimen positif untuk memperkuat kepercayaan investor institusional asing dan MSCI terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa stabilitas pasar dalam jangka panjang tetap akan sangat ditentukan oleh koordinasi kebijakan yang konsisten, terintegrasi, dan dapat diprediksi antara otoritas fiskal, moneter, dan energi.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pantai Terbaik Dunia 2026 Diumumkan, Indonesia Masuk Dalam Daftar

Daftar “World’s 50 Best Beaches” 2026 resmi dirilis, menghadirkan 50 pantai paling menakjubkan dari berbagai penjuru dunia yang bisa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img