Kinerja Indonesia Eximbank pada tiga bulan pertama 2026 menunjukkan tren penguatan seiring meningkatnya aktivitas pembiayaan ekspor nasional. Lembaga tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp77 miliar pada kuartal I 2026 atau melonjak 81% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp42 miliar.
Pertumbuhan laba itu didorong oleh ekspansi pembiayaan yang terus tumbuh serta perbaikan kualitas aset. Hingga akhir Maret 2026, pembiayaan business unit tercatat mencapai Rp32,3 triliun atau naik 13% dibandingkan Rp28,6 triliun pada periode sebelumnya.
Selain pembiayaan, aktivitas penjaminan dan asuransi juga mengalami peningkatan. Volume penjaminan tercatat sebesar Rp4,2 triliun, sedangkan volume asuransi mencapai Rp1,4 triliun. Dari sisi pengelolaan aset, realisasi collection dan special asset mencapai Rp648 miliar.
Perbaikan fundamental bisnis turut tercermin dari menurunnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) nett menjadi 1,77% dibandingkan posisi Desember 2025 yang berada di level 2,41%.
Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank, Sukatmo Padmosukarso menilai capaian tersebut mencerminkan efektivitas strategi bisnis dan pengelolaan risiko yang diterapkan perseroan.
“Peningkatan kinerja Indonesia Eximbank ini sejalan dengan peningkatan aktivitas Pembiayaan Ekspor Nasional dan perbaikan fundamental pengelolaan aset serta mencerminkan peran aktif Indonesia Eximbank dalam mendukung program Asta Cita Pemerintah, namun tetap memenuhi prudential norms untuk menjaga kualitas pembiayaan dan keberlanjutan usaha,” ujar Sukatmo di Jakarta, Rabu (20/5).
Kontribusi penugasan pemerintah melalui Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) juga menjadi salah satu penopang pertumbuhan bisnis. Pada kuartal I 2026, realisasi disbursement PKE mencapai Rp3,6 triliun atau tumbuh 39% secara tahunan.
Program PKE Trade Finance dan PKE Kawasan tercatat menjadi penyumbang terbesar penyaluran, sedangkan PKE UKM menjadi program dengan jumlah debitur paling banyak. Hal ini menunjukkan tingginya kebutuhan pembiayaan bagi pelaku usaha kecil dan menengah berorientasi ekspor.
Menurut Sukatmo, program PKE tidak hanya memperkuat kapasitas produksi eksportir nasional, tetapi juga membantu pelaku usaha memperluas penetrasi pasar ke negara nontradisional.
“Melalui program PKE, pelaku usaha berorientasi ekspor dapat meningkatkan kapasitas produksi, menjaga keberlanjutan usaha, memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global, serta memperluas akses ke pasar internasional, khususnya negara-negara non-tradisional,” katanya.
Di luar pembiayaan, Indonesia Eximbank juga memperkuat program pengembangan eksportir melalui pembinaan Desa Devisa dan pendampingan usaha. Hingga Maret 2026, jumlah Desa Devisa binaan mencapai 2.379 desa, dengan 199 desa di antaranya mengalami peningkatan kualitas melalui penguatan kelembagaan, pelatihan ekspor, hingga business matching.
Lembaga itu juga mencatat keberhasilan mencetak 120 eksportir baru sehingga total eksportir baru binaan mencapai 1.774 eksportir.
“Berbagai pencapaian ini mencerminkan komitmen Indonesia Eximbank dalam memperkuat ekosistem ekspor nasional melalui pembiayaan, penjaminan, asuransi, serta pengembangan kapasitas pelaku usaha berorientasi ekspor,” tutup Sukatmo.




