Bank Indonesia (BI) melaporkan kinerja Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan tetap menunjukkan pertumbuhan pada triwulan II 2026. Hal tersebut tercermin dari Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI-BI) yang berada di level 51,43 persen, menandakan sektor manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi karena indeks berada di atas ambang batas 50.
Berdasarkan hasil survei BI, ekspansi industri pengolahan ditopang oleh peningkatan pada mayoritas komponen pembentuk PMI, yakni Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan. Kondisi tersebut mengindikasikan aktivitas produksi tetap berjalan positif seiring meningkatnya permintaan terhadap produk manufaktur.
Dilihat dari subsektor industri, sebagian besar juga mencatatkan kinerja ekspansif. Industri Mesin dan Perlengkapan menjadi subsektor dengan indeks tertinggi, disusul Industri Makanan dan Minuman, Industri Logam Dasar, serta Industri Barang Galian Bukan Logam. Kinerja positif sektor-sektor tersebut menjadi penopang utama pertumbuhan industri pengolahan sepanjang triwulan II 2026.
Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan aktivitas industri pengolahan akan semakin menguat pada triwulan III 2026. Hal ini tercermin dari proyeksi PMI-BI sebesar 52,32 persen, yang menunjukkan sektor manufaktur diperkirakan tetap berada dalam fase ekspansi dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.
Peningkatan tersebut diperkirakan masih didorong oleh membaiknya Volume Produksi, Volume Persediaan Barang Jadi, dan Volume Total Pesanan. Sementara itu, pada tingkat subsektor, Industri Mesin dan Perlengkapan diproyeksikan tetap menjadi yang paling ekspansif, diikuti Industri Pengolahan Tembakau, Industri Logam Dasar, serta Industri Alat Angkutan. Prospek tersebut mencerminkan optimisme dunia usaha terhadap permintaan yang tetap terjaga dan aktivitas manufaktur yang terus berkembang pada paruh kedua 2026.




