Moneter.co.id – Bertepatan
dengan Hari Penglihatan Sedunia 2017, Standard Chartered Bank (“Bank”) kembali
mempertegas komitmennya untuk berkontribusi secara positif kepada masyarakat
melalui program “Seeing is Believing”.
Setelah melakukan serangkaian kegiatan
di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), hari ini, sebagai puncak acara, sekitar
700 karyawan Bank turun langsung dan bekerja sukarela untuk meningkatkan
kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan mata untuk mendorong
kualitas hidup yang lebih baik.
Acara ini diresmikan secara langsung oleh Chief Executive Officer Standard Chartered Bank Indonesia Rino Donosepoetro, bersama seluruh jajaran Country Management Team (CMT).
Berbagai
inisiatif dilakukan dalam puncak perayaan Hari Penglihatan Sedunia 2017 mulai
dari jalan sehat (Fun Walk) dengan membawa atribut berupa pesan pencegahan
kebutaan, pengetikan buku braille dan kegiatan edukasi literasi keuangan bagi
para penderita gangguan mata.
Selain itu, Bank juga meluncurkan konten audio
dan video animasi literasi keuangan yang dapat menjadi alat edukasi literasi
keuangan bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan dan umum.
Rino menjelaskan, melalui program yang telah kami lakukan sejak
2003 ini, kami ingin menjadi bagian dari solusi jangka panjang bagi pencegahan
kebutaan dan gangguan penglihatan di Indonesia. Inilah komitmen kami untuk
masyarakat Indonesia dan mendukung program pemerintah dalam mendorong
pertumbuhan ekonomi nasional.
Secara
global, diperkirakan terdapat 285 juta orang (4,24%) mengalami gangguan
penglihatan, 39 juta (0,58%) mengalami kebutaan, dan 246 juta (3,65%) mengalami
low vision (Global Data on Visual Impairment 2010, WHO 2012). Indonesia
menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan tingkat kebutaan tertinggi
di dunia, mencapai 1,5% lebih tinggi dibandingkan negara-negara lain di Asia
Tenggara.
Di Indonesia,
dari total 3,75 juta penyandang tunanetra, rata-rata hidup prasejahtera
lantaran minimnya akses pendidikan. Empat puluh persen dari 3,75 juta
penyandang tunanetra adalah anak-anak usia sekolah dan rata-rata telah putus
sekolah atau sama sekali tidak mengenyam pendidikan lantaran keterbatasan
akses.
Sekedar informasi, program “Seeing is Believing” merupakan inisiatif global Standard Chartered Bank untuk
mencegah kebutaan di komunitas-komunitas dimana Bank beroperasi. Program yang
telah berhasil mengumpulkan dana sebesar US$ 95 juta dan menyentuh sedikitnya
150,3 juta penerima bantuan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan
bahaya kebutaan dan cacat penglihatan. Targetnya program ini dapat mencapai
dana US$ 100 juta pada tahun 2020.
Di Indonesia
sendiri, sejak tahun 2003, program “Seeing is Believing” telah mendanai lebih
dari USD 9 juta untuk program perawatan kesehatan mata bagi masyarakat, mulai
dari anak sampai dengan orang dewasa. Lebih dari 2 juta orang telah mendapatkan
vitamin A, lebih dari 6 juta orang memperoleh layanan kesehatan mata serta
kampanye peningkatan kesadaran dan pendidikan kesehatan serta 138.000 operasi
katarak dan operasi mata lainnya telah dilakukan.
“Kami
menyadari bahwa dibutuhkan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan,
mulai dari Pemerintah, swasta, organisasi masyarakat, serta masyarakat
Indonesia sendiri, agar program ini dapat berhasil,” ujarnya.
Untuk itu, lanjut Rino, pihaknya telah
menjalin kerjasama dengan sejumlah institusi, termasuk Kementerian Kesehatan,
Kementerian Pendidikan Nasional, pemerintah daerah dimana program-program “Seeing is Believing” berlangsung, dan organisasi non-profit, seperti “Helen
Keller International” dan “the Fred Hollows Project”.
Sebelumnya,
Bank telah meluncurkan program “Seeing is Believing” di wilayah NTB dengan
menyasar lima Kabupaten/Kota yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat,
Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Sumbawa Barat. Di
NTB, program ini menargetkan untuk menyentuh sekitar 550.000 siswa dan 3.500
guru di 3.500 SD untuk mendapatkan skiring pelatihan dan akses terhadap layanan
kesehatan mata.
Selain itu, program ini juga akan memberikan pelatihan kepada
para tenaga kesehatan dan penyediaan peralatan screening di 97 Puskesmas.
Sebanyak
1.800 anak berkebutuhan khusus dari 40 Sekolah Luar Biasa di Jabodetabek juga
telah memperoleh akses pemeriksaan dan penanganan gangguan penglihatan untuk
mencegah kebutaan permanen.
Tidak hanya
memberikan bantuan langsung kepada anak-anak, melalui program ini Bank juga
berupaya untuk menciptakan sistem kesehatan mata yang lebih berkelanjutan
melalui pelatihan kepada para guru dan petugas kesehatan. Bersama mitra, Bank
juga akan memanfaatkan aset lokal yang sudah dibangun pemerintah untuk
ditingkatkan kembali kapasitasnya. Hal ini untuk memastikan program yang
selaras dengan fokus pemerintah.
Berdasarkan
Vision Loss Expert Group, prevalensi cacat penglihatan secara global telah
menurun dari 4,58% di tahun 1990 menjadi 3,38% di 2015. Hal ini mengindikasikan
adanya upaya bersama dari pelaku sektor kesehatan dengan organisasi
kemsyarakatan, pemerintah dan pihak swasta, termasuk program “Seeing is
Believing“, yang diharapkan dapat membawa perubahan yang lebih baik.
Sebagai
penghargaan terhadap komitmen dan konsistensinya, program “Seeing is Believing” berhasil memenangkan beberapa penghargaan, diantaranya rekor MURI dan Global
Gold CSR Leadership Award.




