Selasa, Maret 3, 2026

Untuk Subtitusi Impor, Kemenperin Dorong Pemanfaatan Tandan Kosong Sawit

Must Read

Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) berupaya mendukung industri pulp dan kertas nasional
dalam memenuhi kebutuhan bahan baku dari dalam negeri. Salah satu Unit
Pelayanan Teknis (UPT)  yang dimiliki Kemenperin, yakni Balai Besar Pulp
dan Kertas (BBPK) di Bandung, telah melakukan penelitian dan pengembangan
potensi tandan kosong sawit dan kemasan aseptik bekas sebagai bahan baku
substitusi impor.

“Kedua bahan
baku tersebut banyak terdapat di Indonesia dan masih berupa limbah. Sebagai
gambaran, pada tahun 2015, terdapat 6,25 juta ton tandan kosong sawit dan  55 ribu ton kemasan aseptik bekas,” kata
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan
Timur Antara di Jakarta, Senin (26/3).

Ngakan
menjelaskan, kebutuhan terhadap produk kertas dan karton untuk kemasan
khususnya jenis medium dan lainer semakin meningkat setiap tahunnya seiring
pertumbuhan industri penggunanya. “Selama periode tahun 2010-2015, kebutuhan
kertas kemasan meningkat sebesar 2,5%,” ujarnya.

Untuk mencukupi
kebutuhan tersebut, belakangan ini industri pulp dan kertas nasional
memanfaatkan kertas daur ulang (recycle
paper
) sebagai bahan bakunya untuk mengurangi impor. Jenis kertas dan
karton yang masih diimpor adalah kertas old corrugated cardboard (OCC), sorted
white ledger
(SWL), old news paper (ONP), dan kertas bekas campuran
(MIX) yang antara lain berasal dari Amerika Serikat, Australia, Singapura,
Inggris, Selandia Baru, Italia, Jepang, Uni Emirat Arab, Saudi Arabia dan
Belgia.

“Dari hasil
litbang skala industri yang dilakukan oleh BBPK Bandung, ternyata ditemukan
riset bahwa tandan kosong sawit yang diolah dengan teknologi dapat diubah
menjadi bahan baku untuk kertas lainer dan medium yang memenuhi SNI kertas
kemas,” papar Ngakan.

Demikian juga,
kemasan aseptik bekas dari hasil litbang yang dilakukan BBPK telah menunjukkan
kualitas pulp yang dihasilkan setara dengan pulp Needle Unbleached Kraft Pulp (NUKP) yang memiliki serat panjang.
Hal ini sangat berpotensi untuk menggantikan kertas daur ulang impor sebagai
bahan baku pembuatan kertas lainer dan medium untuk pembuatan kertas kemas.

“Hasil
penelitian tersebut telah diaplikasikan di industri kertas kemasan. Berdasarkan
karakteristik seratnya, maka pulp dari kemasan aseptik bekas dapat digunakan
sebagai bahan baku kotak karton gelombang,” ungkapnya.

Kemenperin mencatat, daya saing industri pulp dan kertas Indonesia di
kancah internasional cukup terkemuka, di mana i
ndustri pulp menempati peringkat ke-10 dan industri kertas di posisi ke-6
dunia, sementara di Asia menduduki tangga ke-3 untuk industri pulp dan kertas.

Kemudian, dilihat dari peranannya
dalam perekonomian nasional, antara lain
yaitu kontribusinya dalam ekspor
yang
mampu mencapai USD5,1 miliar pada tahun 2016.

Sementara itu, berdasarkan data sampai dengan
k
uartal III/2017, ekspor pulp dan kertas
meningkat 18,05
% dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Selanjutnya, kontribusi industri pulp dan kertas terhadap
pembentukan PDB pada
triwulan III/2017
sebesar 0,71
%.

 

 

(HAP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img