Moneter.id – Wakil Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Wamenparekaraf) Angela Tanoesoedibjo merumuskan
langkah-langkah konkrit yang dapat dikerjakan bersama untuk menggali potensi
pariwisata di Indonesia di era kemajuan teknologi digital.
“Pertama, harus mendukung pengembangan
akses, amenitas, dan atraksi destinasi wisata baru, atau yang sering disebut
sebagai 10 Bali baru dan seluruh ekosistemnya,” kata Angela belum lama ini.
Karena dengan
pengembangan ini, opsi produk wisata semakin banyak sehingga bisa menargetkan
semakin banyak wisatawan, dan kapasitas untuk bisa menerima lebih banyak lagi
wisatawan akan meningkat.
“Selain itu,
pengembangan ini akan menciptakan lapangan pekerjaan baru, dan meningkatkan
ekonomi di berbagai daerah,” ujarnya.
Kedua, lanjutnya, peningkatan kualitas SDM
selain melalui jalur formal, namun juga bisa dengan vocational training
(reskilling/ upskilling) yang bersertifikat internasional dan diakui oleh
industri.
“Namun tidak
hanya kita meningkatkan kemampuan SDM dalam bidang teknologi, perkembangan
digital ini bisa dimanfaatkan sebagai platform untuk training online,” ujarnya.
Ketiga, mendukung inisiatif sustainable
development tourism atau pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dalam hal ini,
kata dia, ada banyak elemen di antaranya wish management, pengembangan energi,
juga water management, inklusif terhadap komunitas kesetaraan gender, isu
keamanan, dan banyak hal lainnya.
“Ini
penting bagi kita, karena tanggung jawab bersama untuk melestarikan alam,
budaya, aset kita agar bisa diwariskan ke generasi berikutnya. Selain itu, tren
ke depan sustainable tourism salah satu alasan wisatawan berkunjung. Menurut
sustainable travel report di 2018, 87% itu ingin sekali traveling sustainable.
Walaupun kenyataan masih kurang 50% tapi keinginan itu ada. Di era digital ini
, wisatawan dengan mudah mencari informasi tentang travel sustainable,”
jelasnya.
Keempat, lanjut Angela berkaitan dengan citra
promosi digital, salah satunya mikro targeting tepat sasaran. Ia mencontohkan,
jika calon wisatawan menyukai aktivitas selam, promosinya harus tepat untuk
para pencinta selam bukan hiking, begitu pula sebaliknya, dan ini bisa
dilakukan melalui digital.
“Promosi yang
tepat itu menggunakan 5 hal seperti platform yang tepat, target yang tepat,
waktu yang tepat, frekuensi yang tepat dan message atau konten yang tepat.
Khusus yang terakhir ini, ke depannya, dengan era digital, konten harus lebih
personal, lebih menitikberatkan kepada pengalaman dan diiringi dengan call to
action,” ujarnya.
Solusi kelima
yakni mendukung kolaborasi antara pariwisata dan ekonomi kreatif yang harus
saling mendukung. Jika melihat destinasi yang sudah matang di Eropa, ekonomi
kreatif lebih sering menjadi poin utama.
“Ini
perlu ditingkatkan. Di Bali sudah terjadi. Seperti wedding itu semua di
dalamnya ada unsur ekonomi kreatif. Teknologi harus mendorong proses berbisnis,
lalu ada satu aplikasi layanan fotografi, yang bisa menyediakan fotografer
lokal dengan standar yang terjamin dan bisa di akses degan mudah, bayarnya juga
online, jadi kalau mau foto-foto bisa menggunakan jasa fotografer setempat,”
katanya.




