Moneter.co.id – Mantan raja minyak Rafael Ramirez Venezuela sedang diselidiki dalam
kaitannya dengan kasus korupsi senilai 4,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS)
atau sekira Rp65 triliun di Wina, Austria, demikian laporan kantor kejaksaan Venezuela.
Ramirez adalah mantan kepala perusahaan perminyakan negara
Venezuela (PDVSA), yang pernah menjadi menteri perminyakan sangat berpengaruh
lantaran negaranya termasuk pemegang kuota dominan dalam Organisasi Negara
Pengekspor Minyak (OPEC) bermarkas di Wina.
Jaksa Tarek Saab mengatakan Ramirez dan setidaknya empat
pejabat perminyakan lainnya dari negara OPEC di Amerika Utara itu menjual
minyak mentah di bawah harga pasar sebagai imbalan atas suap.
Ramirez, yang memimpin PDVSA selama satu dasawarsa,
mengatakan kepada Reuters bahwa
tuduhan itu merupakan “kebohongan yang menyolok”.
Pihak berwenang Venezuela telah memperingatkan pada awal
bulan ini bahwa mereka berencana menyelidiki sang mantan raja minyak itu. Penyelidikan dijalankan di tengah peningkatan upaya
pembersihan tindakan korupsi, yang telah membuat puluhan pejabat tinggi
perminyakan di Venezuela ditahan.
“Ramirez tampaknya merupakan tokoh intelektual utama di
balik apa yang telah terjadi,” kata Saab, yang telah mengundang Ramirez ke
Venezuela untuk membela diri.
Venezuela telah mengeluarkan perintah pencopotan Ramirez dari
jabatannya sebagai wakil negara tersebut untuk Perserikatan Bangsa Bangsa di
New York pada November 2017.
“Apa yang dikatakan jaksa bukan hanya tidak benar, tapi
juga menunjukkan kebodohan yang parah,” kata Ramirez.
Ramirez menambahkan bahwa kantor PDVSA di Wina tidak bertugas
untuk menjual minyak, melainkan memantau harga ekspor minyak mentah Venezuela.
Dalam pengumumannya pada Jumat (29/12), Saab juga melaporkan
penahanan terhadap Nelida Izarra, mantan petinggi kantor cabang PDVSA di Wina,
atas dugaan terkait dengan pembelian dan penjualan minyak mentah yang
mencurigakan.
Saab juga mengatakan telah memerintahkan penahanan terhadap
dua pejabat PDVA lainnya yang bekerja di Austria, yaitu Bernard Mommer dan
Irama Quiroz, serta pengacara bernama Mariana Zerpa.
Belum ada keterangan soal di mana Izarra ditahan atau di
negara mana para tersangka lainnya berada saat ini.
(SAM/Ant)




