Jumat, Juni 12, 2026

Wisatawan Kian Selektif, Yogyakarta Tetap Jadi Magnet Perjalanan Domestik

Must Read

Ketidakpastian ekonomi tidak serta-merta mengurangi minat masyarakat untuk berwisata. Di tengah tekanan daya beli, wisatawan domestik justru semakin selektif dalam menentukan destinasi dan akomodasi, dengan mengutamakan pengalaman yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam kondisi tersebut, Yogyakarta dinilai tetap menjadi salah satu destinasi unggulan yang mampu mempertahankan daya tariknya.

Platform teknologi perhotelan RedDoorz menilai Yogyakarta memiliki kombinasi keunggulan yang sulit ditandingi, mulai dari kekayaan budaya, wisata sejarah, kuliner lokal, hingga biaya perjalanan yang relatif terjangkau. Faktor-faktor tersebut membuat kota ini tetap menjadi pilihan utama wisatawan domestik di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.

General Manager Area East & Bali RedDoorz, Ovaldo Sanjaya, mengatakan wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat untuk berlibur, tetapi juga pengalaman yang lebih autentik dan dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.

“Yogyakarta memiliki daya tarik yang sulit tergantikan karena menawarkan pengalaman wisata yang lengkap dengan biaya yang relatif terjangkau. Mulai dari budaya, wisata sejarah, hingga kuliner lokal, semuanya membuat wisatawan domestik terus kembali berkunjung ke Jogja,” ujar Ovaldo, Kamis (11/6).

Kinerja sektor pariwisata Yogyakarta turut mencerminkan ketahanan tersebut. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2025 terdapat 40,6 juta pergerakan wisatawan nusantara dan 102.817 kunjungan wisatawan mancanegara ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tren pertumbuhan itu berlanjut pada kuartal pertama 2026 dengan jumlah kunjungan wisatawan nusantara mencapai 10,4 juta perjalanan, naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 10,2 juta kunjungan.

Tingginya arus wisatawan berdampak positif terhadap industri akomodasi. Sepanjang 2025, Yogyakarta menjadi salah satu pasar terbesar RedDoorz dengan lebih dari 445.000 pemesanan. Momentum libur Lebaran 2026 juga memberikan dorongan signifikan, dengan tingkat okupansi properti RedDoorz di Yogyakarta mencapai 55% atau melonjak 91% secara tahunan.

Di sisi lain, perubahan perilaku wisatawan semakin dipengaruhi oleh perkembangan teknologi digital. RedDoorz mencatat kalangan Gen Z kini lebih aktif melakukan riset sebelum memesan penginapan, mulai dari membaca ulasan, membandingkan harga, mengevaluasi aksesibilitas lokasi, hingga melihat tampilan visual properti melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram.

Sementara itu, wisatawan milenial cenderung mengutamakan kenyamanan, fasilitas yang memadai, lokasi strategis, serta kemudahan bagi kebutuhan perjalanan keluarga maupun rombongan.

Merespons tren tersebut, RedDoorz memperkuat strategi multi-brand melalui jaringan SANS dan URBANVIEW yang menyasar segmen pasar berbeda.

“Untuk menjawab kebutuhan wisatawan yang semakin beragam, kami terus memperkuat strategi multi-brand di Yogyakarta melalui jaringan SANS dan URBANVIEW yang menyasar segmen wisatawan berbeda, mulai dari wisatawan yang sensitif terhadap harga, hingga wisatawan yang mencari pengalaman menginap lebih modern dan estetik,” kata Ovaldo.

Strategi tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang 2025, SANS Hotel mencatat tingkat okupansi tertinggi di antara merek yang berada dalam jaringan RedDoorz, yakni 1,3 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata hotel lain di Yogyakarta. Pencapaian ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap hotel berkonsep lifestyle dengan tarif yang tetap kompetitif.

Dampak positif juga dirasakan para pemilik hotel yang bermitra dengan RedDoorz. Pemilik SANS Hotel Nagari Malioboro, Puspita Melati, mengungkapkan tingkat hunian propertinya meningkat signifikan sejak berkolaborasi dengan perusahaan tersebut.

“Sebelum dikelola langsung bersama RedDoorz, rata-rata tingkat hunian properti kami berada di kisaran 40%. Kini, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 75%. Hal ini berkat dukungan keahlian operasional dari RedDoorz. Kolaborasi dengan RedDoorz telah membantu kami memperluas jangkauan pasar, sekaligus tetap konsisten menyajikan pengalaman menginap yang nyaman bagi para tamu,” ujarnya.

Melihat prospek pasar yang masih kuat, RedDoorz berencana memperluas ekspansi di Yogyakarta dengan menambah sekitar 96 properti baru sepanjang 2026. Langkah ini dilakukan untuk menangkap pertumbuhan permintaan wisata sekaligus memperkuat posisi perusahaan di salah satu destinasi wisata utama Indonesia.

“Melalui strategi multi-brand, kami ingin memastikan RedDoorz dapat terus menjawab perubahan kebutuhan wisatawan saat ini sekaligus membantu pemilik properti meningkatkan performa bisnis mereka secara lebih berkelanjutan,” tutup Ovaldo.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Cove Masuk Malang, Tangkap Peluang Bisnis Hunian Mahasiswa di Kota Pendidikan

Gelombang penerimaan mahasiswa baru yang berlangsung pada pertengahan tahun ini membawa peluang baru bagi sektor properti hunian. Meningkatnya jumlah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img