Moneter.co.id – PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) akan
menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Chandra Asri Petrochemical tahap II sebesar
Rp 500 miliar.
Berdasarkan
keterbukaan informasi TPIA beberapa hari lalu, perseroan akan menerbitkan
obligasi ini dalam tiga seri. Obligasi seri A diterbitkan sebanyak Rp 100
miliar dengan tingkat bunga tetap 7,50% per tahun dan ternor 3 tahun.
Sementara, obligasi seri B diterbitkan sebanyak Rp 100
miliar dengan tingkat bunga tetap 8,25% per tahun dan tenor lima tahun. Seri C
diterbitkan sebanyak Rp 300 miliar dengan tingkat bunga tetap 9,00% per tahun dan
bertenor 7 tahun.
Obligasi
Berkelanjutan I tahap II ini dijamin dengan hak tanggungan atas dua bidang
tanah milik TPIA dan fidusia atas seluruh mesin milik anak usaha perusahaan, PT
Petrokimia Butadiene Indonesia (PBI).
Penerbitan
obligasi ini merupakan bagian dari penawaran umum Obligasi Berkelanjutan I
Chandra Asri Petrochemical dengan jumlah yang ingin dihimpun Rp 1 triliun.
Sebelumnya, Desember 2017, TPIA telah melakukan penerbitan tahap I sebesar Rp
500 miliar.
Direktur
Independen TPIA Suryandi mengatakan, penggunaan dana hasil penerbitan obligasi
tahap II ini tak akan jauh beda dengan penggunaan dana tahap pertama. Antara
lain untuk melunasi utang bank dan modal kerja. “Lebih banyak untuk pelunasan
utang bank,” ujar Suryandi, Selasa (13/2).
Namun, Suryandi belum bisa merinci besaran utang yang
akan dibayar dan tanggal jatuh tempo utang tersebut.
Analis
Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar mencatat, tujuan penerbitan obligasi
ini adalah sebesar 64% untuk melunasi utang dan 36% untuk modal kerja. Meski
terkesan gali lobang tutup lobang, strategi refinancing ini dinilai
wajar.
Pasalnya,
porsi publik pada saham TPIA yang beredar pasca-stock split sangat minim,
yani 3,18%. Hal ini mempengaruhi minimnya pendanaan modal TPIA dari pasar
saham. “Mengajukan utang baru melalui bank tentu bukan ide yang baik,” ujar
William.
Dari
sisi bisnis, William menilai, TPIA memiliki earning power yang kuat.
Ia yakin dengan kemampuan TPIA untuk membayar bunga dari obligasi yang akan
diterbitkannya.
Sementara,
Analis Binaartha Parama Sekuritas M. Nafan Aji mencatat, debt to equity
ratio(DER) TPIA sebesar 0,57. Dengan demikian TPIA belum memiliki
beban utang yang tinggi. Meskipun TPIA memiliki price to book value (PBV)
yang rendah di 0,93 kali, valuasi sahamnya masih menarik.
Price to earning ratio (PER) TPIA adalah
4,42 kali dengan ROE di angka 19,55 kali. “Sebenarnya harga saham emiten ini
memiliki peluang menguat ke depannya,” ujar Nafan.
Secara
teknikal, Nafan melihat pada weekly chart ada koreksi wajar karena formasi hanging man candle sudah terbentuk. Dus,
level support yang kuat menurutnya adalah di level 5.675, berdasarkan MA 20
atau garis Fibonacci 50%. “Cicil beli TPIA dengan target harga Rp 6.725 per
saham,” sarannya.
Meskipun
optimistis dengan kinerja ke depan, William bilang, TPIA perlu waspada dengan
harga bahan baku yang berkorelasi positif dengan harga minyak. Sebagaimana
diketahui, harga minyak belakangan cenderung meningkat dan diprediksikan akan
kembali meningkat.
Ia merekomendasikan hold saham TPIA dengan
PER 24,01 dan PBV 0,96 kali, dengan target harga saat ini Rp 6.110 per saham.
(HAP/Kntn)




