Moneter.id – Langkah
nyata dalam menguatkan nilai tukar Rupiah terhadap AS $ dilakukan
oleh Forum Komunikasi Asosiasi Pengusaha (FORKAS) Jawa Timur dengan
melepas 50 juta AS $ di luar yang reguler selama dua hari terakhir.
“Saya memberi apresiasi pada rekan-rekan Forkas di Jawa
Timur. Dengan kesadarannya muncul gerakan yang positif, menginspirasi, dan
memotivasi bagi daerah lain,” kata Kepala Staf Kepresidenan Jend. TNI (Purn.) Dr. Moeldoko di Surabaya,
Kamis (20/9).
Sebagaimana diketahui, sejak awal tahun 2018, Rupiah
melemah sekitar 8,6 persen. Pada (20/9) ini, Rupiah berada di level Rp14.845
per dolar AS. Namun kondisi Rupiah masih lebih baik dibandingkan mata uang
negara emerging markets lainnya, seperti Peso Chili (-10,42%); Rupee India
(-11,75%); Rubel Rusia (-13,76%) dan Rand Afrika Selatan (-15,53%).
“Kami membulatkan tekad dan menggugah semangat, karena
pelemahan ini tidak bisa dibiarkan terus-menerus,” kata Ketua Forkas Jawa Timur
Nur Cahyudi dalam acara berjuluk Bersatu
Menguatkan Rupiah dengan penukaran dolar ke rupiah secara simbolis di Surabaya.
Nur menyampaikan komitmen para pengusaha untuk mengurangi
impor bahan baku dan bahan penunjang, serta menggencarkan pemakaian produk
dalam negeri. Dengan demikian impor makin kecil, dan sebaliknya ekspor makin
besar.
Penyebab utama pelemahan Rupiah adalah ekspektasi
percepatan normalisasi kebijakan moneter AS dan kebijakan fiskal ekspansif AS
yang membuat defisit APBN AS melebar. Artinya, AS akan menjual obligasi lebih
banyak, menawarkan suku bunga lebih tinggi, dan membuat global capital flows
masuk ke AS.
Selain itu, adanya krisis
di Turki dan Argentina yang mempengaruhi kepercayaan pasar terhadap emerging
markets serta depresiasi Yuan akibat perang dagang AS-China.
Sementara, di dalam negeri adalah adanya defisit
transaksi berjalan Indonesia yang melebar. Defisit tersebut sebenarnya sejalan
dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sayangnya, hal itu memicu sentimen
negatif pasar.
Menurut Kepala Staf Kepresidenan ada langkah untuk
mengatasi pelemahan rupiah. Salah satunya adalah menggalakkan potensi
wisata. “Sumber daya pariwisata Bromo,
Banyuwangi di Jawa Timur luar biasa. Jika ada tambahan 1 juta wisatawan asing
dengan pengeluaran rata-rata 2.000 dolar AS, maka akan menghasilkan tambahan
devisa sebesar 2 miliar dolar AS,” jelas Moeldoko.
Selain itu, kata Moeldoko, investasi dan
pertumbuhan ekonomi harus digiatkan. Infrastruktur adalah prasyarat karena
menekan biaya tinggi dan melancarkan transportasi. “Upaya
lainnya adalah perbaikan pelayanan publik (perizinan), pemberantasan korupsi
dan pungli, perbaikan pendidikan serta pelatihan vokasi, dan kompetensi
operator infrastruktur dan pemerintah daerah yang mendekati world class level,” tutupnya.
(TOP)




