Moneter.id – Analis
Jasa Utama Capital Chris Apriliony menyarankan agar Bank Jabar Banten (bjb)
dapat meningkatkan nilai jual kepada masyarakat dan korporasi untuk memperbaiki
merosotnya laba serta kinerja.
Pernyataan
itu menanggapi kinerja dan pendapatan bjb hingga kuartal II/2019 sebesar Rp800
miliar atau mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Dengan
meningkatnya dana yang dihimpun BJBR bisa meningkatkan kredit dan seperti yang
sudah direncanakan perusahaan untuk mulai menggunakan QR code,” ujarnya di
Jakarta, Selasa (27/8).
Ia
menjelaskan, bjb mengalami kemerosotan dan kerugian cukup siginifikan di 2019,
pasalnya, kapitalisasi pasar bank tersebut terpangkas hingga Rp4,09 triliun.
Sebagaimana
tercatat dalam publikasi Bursa Efek Indonesia (BEI), per akhir 2018 bjb memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp19,68 triliun. Per akhir perdagangan
Senin (26/8), melansir data RTI, kapitalisasi pasar bjb hanya tersisa
Rp15,59 triliun.
“Sepanjang
tahun 2019 hingga penutupan perdagangan pada 8 Agustus 2019 harga saham Bank
bjb sudah anjlok dan match hingga
22,68%, dari Rp2.050/unit menjadi Rp1.585/unit,” paparnya.
Faktor
fundamental sendiri disinyalir menjadi alasan utama di balik ambruknya harga
saham bjb di sepanjang tahun 2019. Pada tanggal 25 Juli 2019, perusahaan
merilis kinerja keuangan periode semester I/2019.
Hasilnya,
laba bersih perusahaan tercatat anjlok hingga 11,2% secara tahunan (yoy) menjadi Rp803 miliar. Pada semester
I/2018, laba bersih perusahaan adalah senilai Rp903 miliar.




