Moneter.id – Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) mendorong
penguatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dalam upaya menumbuhkan perusahaan
rintisan (startup) di
kedua negara.
“Kami
ingin bersama-sama menginisiasi kerja sama di antara startup dan unicorn
Indonesia-Korea,” kata Menteri Perindustrian Agus
Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Kamis (28/11).
Menperin
Agus turut mendampingi Presiden Joko Widodo menghadiri ASEAN – Republic of
Korea (RoK) Startup Summit dan ASEAN-RoK Innovation Showcase di Busan
Exhibition and Convention Center (BEXCO).
Menurut
Menperin, kolaborasi yang akan dijalankan secara bilateral itu tidak sekadar mengidentifikasi
sejumlah tantangan dan peluangnya saja, tetapi juga untuk membangun ekosistem
inovasi bersama yang bisa mendukung pertumbuhan, sustainability, dan
bahkan upaya meningkatkan keuntungan bagi startup dan unicorn di kedua
negara hingga ASEAN.
“Oleh
karena itu, kami mengapresiasi penyelenggaraan ASEAN – RoK Startup Expo 2019. Dari
ajang tersebut, kami berharap terjadinya sharing informasi, pengalaman,
dan best practices dalam penyusunan regulasi,” papar Menperin Agus saat turut mendampingi Presiden
Joko Widodo menghadiri ASEAN – Republic of Korea (RoK) Startup Summit dan
ASEAN-RoK Innovation Showcase di Busan Exhibition and Convention Center (BEXCO) pada Selasa (26/11) lalu.
Selain
itu, Agus meyakini, kegiatan itu dapat menghubungkan stakeholders yang
relevan. “Jadi, bisa saling berkolaborasi mengenai pameran teknologi inovasi
dan produk antar startup, atau bahkan mencakup perluasan jaringan antar startup,
unicorn, dan investor,” imbuhnya.
Agus
menilai, saat ini merupakan waktu yang tepat bagi startup di ASEAN dan
Korea untuk bersama-sama mendominasi dan memimpin lanskap startup dunia.
“Kami ingin melahirkan startup dan unicorn yang lebih besar,
lebih tangguh, dan berorientasi pasar,” tandasnya.
Menperin
mengungkapkan, pada tahun 2013, hanya terdapat 39 perusahaan rintisan di
seluruh dunia yang dikategorikan sebagai unicorn. Istilah unicorn
sendiri, yaitu startup yang berusia kurang dari 10 tahun dengan memiliki
valuasi lebih dari USD1 Miliar.
“Enam
tahun kemudian, pada pertengahan 2019, TechCrunch melaporkan sudah ada sebanyak
452 unicorn dan startup di seluruh dunia dengan valuasi kumulatif
mencapai USD1,6 Triliun. Pertumbuhan unicorn sangat cepat pada 2018,
karena dalam waktu 15 bulan, lebih dari 170 startup di seluruh dunia
mencapai status tersebut,” tuturnya.
Menurut
CBInsights pada November 2019, terdapat 10 unicorn startups di Korsel, di
antaranya Coupang, Bluehole, Yello Mobile, Wemakeprice, Woowa Brothers, dan Viva
Republica. “Jumlah itu terus berkembang sejalan dengan munculnya ratusan startup
baru,” sebutnya.
Berdasarkan
data CBInsights pada Januari 2019, terdapat 3.617 startup yang didirikan
di wilayah Asia Tenggara. Sementara itu, startup baru (non-unicorn)
baik di ASEAN dan Korea, totalnya mencapai 3.919 startup.
“Startup
tersebut didukung dengan pendanaan kuat dan menciptakan bisnis yang out-of-the-box,
sehingga mampu menunjukkan posisi mereka di dunia dan siap untuk bersaing
dengan kompetisi startup yang kian ketat,” terangnya.




