Minggu, Maret 1, 2026

Menperin: Industri Manufaktur Jadi Penyumbang Paling Besar Ekspor Nasional

Must Read

Moneter.id – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang
Kartasasmita menjelaskan
, sepanjang
periode Januari-Oktober 2019, ekspor produk manufaktur mencatatkan senilai USD105,11
miliar.
 

“Industri
manufaktur menjadi sektor yang menyumbang paling besar pada nilai ekspor
nasional
,” katanya pada Jumpa Pers Kementerian
Perindustrian mengenai “Kinerja Tahun 2019 dan Outlook Pembangunan Industri
Tahun 2020” di Jakarta, Senin (6/1).
 

Adapun tiga sektor yang menjadi kontributor
terbesar terhadap nilai ekspor tersebut, yakni industri makanan dan minuman yang
menembus USD21,73 miliar, diikuti industri logam dasar sekitar USD14,64 miliar,
serta industri tekstil dan pakaian jadi sebesar USD10,84 miliar.

“Oleh karena itu, sektor industri terus
didorong untuk mampu meningkatkan nilai ekspor nasional, baik itu melalui peningkatan
daya saing produk industri maupun perluasan pasar ekspor ke negara-negara
tujuan ekspor baru,” tutur Menperin.

Kemenperin memproyeksikan, pada tahun 2019,
ekspor produk industri menyentuh di angka USD123,7
129,8 miliar. Sedangkan,
pada tahun 2020, ekspor produk industri bakal menembus USD136,3
142,8 miliar.

“Di sisi lain, industri pengolahan juga
merupakan sektor yang berkontribusi besar terhadap penerimaan pajak. Sampai
dengan Triwulan III
/2019,
kontribusinya 29,23% dari penerimaan pajak neto nasional, atau sebesar Rp245,60
triliun,” imbuhnya.

Agus mengemukakan, dalam melaksanakan program
pembangunan industri, ada tujuh tantangan yang dihadapi saat ini.

Pertama, kekurangan bahan baku seperti
kondensat, gas, naphta, biji besi. Kedua,
kurangnya infrastruktur
seperti pelabuhan, jalan, dan kawasan industri. Ketiga, kurangnya utility
seperti listrik, air, gas, dan pengolah limbah.

Keempat, kurangnya tenaga terampil dan
supervisor, superintendent. Kelima, tekananan produk impor. Keenam, limbah industri
seperti penetapan slag sebagai limbah B3, spesifikasi yang terlalu ketat untuk
kertas bekas dan baja bekas (scrap) menyulitkan industri.

Ketujuh, Industri Kecil dan Menengah (IKM)
masih mengalami kendala seperti akses pembiayaan, ketersediaan bahan baku dan
bahan penolong, mesin peralatan yang tertinggal, hingga pemasaran.

“Terhadap berbagai tantangan yang dihadapi
tersebut, saat ini kami terus melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikannya,
termasuk selalu berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait,” ujar
Menperin.

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Motorola Resmi Luncurkan razr 60 di Indonesia: Era Baru Ponsel Lipat Pintar Berbasis AI

Motorola kembali menggebrak pasar ponsel premium tanah air dengan mengumumkan kehadiran motorola razr 60 di Jakarta pada Rabu, 25...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img