Rabu, Maret 4, 2026

Ini Usulan Pakar Agar Subsidi Energi Bisa Ditekan

Must Read

Moneter.id – Pemerintah
diminta agar subsidi di sektor energi hanya diperuntukkan bagi masyarakat kelas
bawah yang benar-benar sangat membutuhkan.

Kondisi negara yang saat ini tengah dihantam gelombang
pandemi Corona Covid-19 bisa dijadikan momentum bagi negara untuk
mengalokasikan subsidi energi tepat sasaran.

“Saat ini kesempatan bagi PT Pertamina (Persero),
Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian
ESDM, dan Kementerian Lingkungan Hidup untuk bekerja sama mengingat keuangan
negara terbatas,” kata mantan Wakil Direktur Pertamina Ahmad Bambang dalam
diskusi zoom yang digelar MarkPlus, belum lama ini.

Pria yang juga pernah duduk sebagai komisaris
Pertamina ini mengusulkan untuk menghapus BBM subsidi jenis Premium, paling
tidak khususnya pertama kali dilakukan di Pulau Jawa.

“Lalu subsidi dialihkan ke BBM jenis Pertalite
tapi terbatas, misalnya hanya untuk angkutan kota (angkot) dan sepeda motor
dengan kapasitas mesin maksimal 150 cc. Pertalite yang disubsidi itu juga hanya
disalurkan oleh SPBU tertentu, misalnya SPBU yang dekat terminal angkot atau
jalur padat angkot sehingga memudahkan dalam pengawasannya,” jelas pria
yang juga terkenal sebagai pakar marketing tersebut.

Kemudian, lanjut pria yang akrab disapa Abe tersebut,
tahap selanjutnya adalah Pertalite naik kelas dari semula RON 90 ke RON 91
sesuai standar Euro IV, lalu Pertamax dari RON 92 ke RON 94, sesudah itu ada
Pertamax Turbo dengan RON 98.

Ini dimaksudkan agar Indonesia bisa memenuhi Euro IV
di mana salah satu syaratnya adalah RON minimal 91. “Jika sudah sesuai
standar minimal Euro IV lalu secara bertahap naik ke Euro V. Dengan demikian,
lingkungan hidup akan lebih bagus akibat digunakannya energi yang lebih baik
sehingga polusi turun. Kota-kota metropolitan dan wilayah Pulau Jawa harus
mengalami perbaikan soal polusi. Namun jangan lupa tetap memikirkan kemampuan
masyarakat agar tetap mampu membeli,” terang dia.

Ahmad Bambang juga mengusulkan sebaiknya pembangkit
listrik di kota-kota metropolitan khususnya Jakarta dan Surabaya harus
menggunakan bahan bakar gas semuanya.

Penjelasan Ahmad Bambang, jika sejumlah langkah
tersebut bisa dilakukan akan berdampak terhadap penurunan terhadap subsidi
energi, lalu kualitas lingkungan menjadi lebih baik, Pertamina bisa tetap
bertahan dan tumbuh, serta daya beli masyarakat masih mampu dan masyarakat juga
mulai dididik untuk menggunakan energi yang lebih baik.

Secara teknis, imbuh penulis buku D’Gil! Marketing: Think Like There is No Box ini,
dalam implementasinya nanti maka harga Pertalite subsidi harus lebih rendah
atau paling tudak sama dengan harga Premium saat ini.

Upaya penekanan subsidi energi tersebut akan lebih baik
lagi jika subsidi elpiji 3 kg juga mulai dibenahi.

Apalagi, terang Ahmad Bambang, jika subsidi elpiji 3
kg juga mulai diberikan secara langsung dengan subsidi 100 persen (sesuai
besaran yang ditetapkan pemerintah) bagi keluarga pelanggan listrik 450 VA dan
50 persen bagi keluarga pelanggan listrik 900 VA.

“Jika hal ini bisa ditetapkan secara bertahap,
minimal di Pulau Jawa saja di mana tingkat electricity sudah
hampir 100 persen dengan data pelanggan yang sudah baik, maka akan terjadi
penurunan subsidi energi paling tidak 50 persen atau Rp 60 triliun
rupiah,” kata dia.

Reporter
: Sam

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Lebaran Jadi Titik Balik Finansial, Pencarian Rumah Melonjak Usai Hari Raya

Narasi mengenai tantangan Generasi Z dan Milenial dalam memiliki hunian pribadi kian mengemuka sebagai isu krusial. Kekhawatiran ini bukan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img