Moneter.id – Direktur Grup Kebijakan dan
Koordinasi Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Yanti Setiawan menilai prospek
Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tahun 2021 diproyeksi semakin meningkat sehingga
mendorong bank sentral meluncurkan relaksasi uang muka KPR.
“Beberapa indikator yang menunjukkan prospek KPR
meningkat di antaranya preferensi untuk investasi sektor properti meningkat,”
ucapnya, Jumat (19/2/21).
Jelas Yanti, ada pertumbuhan penjualan rumah tapak
terutama pada rumah tipe menengah mencapai 16,44 persen pada triwulan III/2020
berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR).
Yanti menyebutkan potensi sektor perumahan dan untuk
industri diperkirakan masih terus berlanjut pada 2021. Kinerja sektor industri
merupakan hal yang penting sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi dan efek
berlipat terhadap sektor properti.
“Minat orang membeli properti tidak untuk dipakai
sendiri tetapi juga untuk investasi,” imbuhnya.
Diketahui, BI sebelumnya meluncurkan relaksasi berupa
pelonggaran uang muka KPR paling tinggi 100 persen berlaku 1 Maret-31 Desember
2021.
Kebijakan itu dapat dilaksanakan bagi bank yang
memiliki kriteria dengan rasio kredit bermasalah (NPL/NPF) di bawah 5 persen
maka dapat memberlakukan pelonggaran uang muka KPR mencapai 100 persen untuk
semua jenis properti yakni rumah tapak, rumah susun, serta ruko/rukan.
Bagi bank dengan NPL/NPF di atas 5 persen, besaran
pelonggaran uang muka KPR tidak 100 persen namun kisaran 90-95 persen.
Namun, lanjut dia, BI
memberikan pengecualian untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun pembelian
pertama tipe di bawah 21, ketentuan pelonggarannya sama yakni 100 persen.




