Moneter.id – Jakarta
– PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) atau Maybank Indonesia mencatat
perolehan laba setelah pajak dan kepentingan non-pengendali (PATAMI) sebesar
Rp960 miliar di semester I/2023. Raihan ini naik 44,7% dari Rp663 miliar tahun 2022.
Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan
bahwa perseroan juga membukukan pendapatan yang lebih baik pada bisnis treasury seiring dengan kondisi pasar yang
terus bergerak stabil sejak awal tahun.
”Kami akan melanjutkan langkah transformasi dalam
mengakselerasi kapabilitas perbankan digital, khususnya pada segmen SME serta
memperluas cakupan layanan perbankan kami ke dalam ekosisitem digital,”
ucapnya, Kamis (4/8/2023).
Diketahui, perseroan mencatat Net Interest Income (NII)
tumbuh 6,7%, didukung oleh Net Interest Margin (NIM)
yang naik 41 bps menjadi 5,1% seiring dengan meningkatnya kredit dan membaiknya
komposisi aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi.
Pendapatan Fee-based tumbuh
25,6% menjadi Rp1,10 triliun dari Rp872 miliar karena pendapatan fees transaksi Global Market yang melonjak
sebesar 239,3% menjadi Rp182 miliar dari Rp54 miliar tahun sebelumnya.
Peningkatan ini didukung pergerakan suku bunga yang
stabil dan prospek pasar yang positif serta kinerja layanan valas yang terus
membaik.
Perseroan juga mencatat pendapatan fees di luar Global Market yang tumbuh 11,6%
menjadi Rp913 miliar dari Rp818 miliar, didukung pendapatan asset recovery fees (Bank saja) yang naik lebih
dari 7 (tujuh) kali menjadi Rp241 miliar serta fees terkait
bisnis pembiayaan (kredit) dan ritel.
Sementara, pada semester I/2023, total kredit Bank
meningkat 2,9% menjadi Rp109,97 triliun dari Rp106,81 triliun, seiring dengan
berlanjutnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mendorong peningkatan konsumsi
dan daya beli masyarakat.
Perseroan juga mencatat kredit CFS Ritel dan Non-ritel
tumbuh 7,2% menjadi Rp69,42 triliun dari Rp64,73 triliun, didukung pertumbuhan
kredit CFS Ritel yang signifikan sebesar 15,4% menjadi Rp41,49 triliun dari
Rp35,95 triliun.
Peningkatan kredit CFS Ritel tersebut didukung oleh
pertumbuhan pembiayaan otomotif anak perusahaan sebesar 25,8% untuk kredit
kendaraan roda dua dan 28,0% untuk kendaraan roda empat, serta pertumbuhan
bisnis Kartu Kredit & KTA sebesar 21,8% dan KPR sebesar 1,8%.




