Rabu, Januari 14, 2026

BPS: Neraca Perdagangan Indonesia Surplus Sebesar 1,31 Miliar Dolar AS

Must Read

Moneter.id – Jakarta
– Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan neraca perdagangan Indonesia
kembali mencatatkan surplus selama 39 bulan berturut-turut sejak Mei 2020
dengan nilai sebesar 1,31 miliar dolar AS pada Juli 2023.

“Pada Juli 2023 neraca perdagangan barang kembali
mencatatkan surplus sebesar 1,31 miliar dolar AS. Dengan demikian neraca
perdagangan indonesia telah mencatatkan surplus selama 39 bulan berturut-turut
sejak Mei 2020,” ujar Plt. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti di
Jakarta, Senin (14/8/2023).

Jelasnya, surplus neraca perdagangan Juli ini lebih
rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya dan bulan yang sama pada tahun
lalu.

“Surplus neraca perdagangan pada Juli 2023 lebih
ditopang oleh surplus komoditas non migas sebesar 3,22 miliar dolar AS dengan
komoditas penyumbang surplus utama adalah bahan bakar mineral terutama batu
bara, lemak dan minyak hewan nabati terutama crude palm oil (CPO), serta barang
besi dan baja,” paparnya.

Namun, surplus neraca perdagangan non migas Juli 2023
lebih rendah dibandingkan dengan bulan lalu dan bulan yang sama pada tahun
sebelumnya.

Sedangkan neraca perdagangan komoditas migas tercatat
defisit sebesar 1,91 miliar dolar AS pada Juli 2023, di mana komoditas
penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak.

Defisit neraca perdagangan migas Juli 2023 lebih besar
daripada bulan lalu, namun lebih rendah dibandingkan bulan yang sama pada tahun
sebelumnya.

Secara kumulatif hingga Juli 2023, total surplus neraca
perdagangan Indonesia mencapai 21,24 miliar dolar AS atau lebih rendah sekitar
7,88 miliar dolar AS dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, pada Juli 2023 Indonesia mengalami surplus
dalam perdagangan dengan beberapa negara. Untuk tiga negara penyumbang surplus
terbesar adalah India sebesar 1,4 miliar dolar AS, Amerika Serikat 1,1 miliar dolar
AS, dan Filipina 718 juta dolar AS.

“Surplus terbesar yang dialami dengan India didorong
oleh komoditas lemak dan minyak hewan nabati terutama CPO, bahan bakar mineral
terutama batu bara, dan juga besi serta baja,” kata Amalia Adininggar
Widyasanti.

Kendati demikian, Indonesia juga mengalami defisit
perdagangan dengan beberapa negara yakni Tiongkok sebesar 621 juta dolar AS,
Australia 549 juta dolar AS, dan, Jerman 459 juta dolar AS.

Defisit terdalam yang dialami dengan Tiongkok didorong
oleh barang mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan
elektrik serta bagiannya, serta juga plastik dan barang dari plastik.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img