PT Jasuindo Tiga Perkasa Tbk (JTPE) mengambil langkah strategis dengan mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp200 miliar.
Aksi korporasi ini menjadi sinyal kuat ke pasar bahwa manajemen menilai harga saham perseroan belum sepenuhnya mencerminkan nilai intrinsik, sekaligus mempertegas optimisme terhadap prospek bisnis jangka panjang.
Manajemen menegaskan, buyback bukan sekadar langkah teknis, melainkan bagian dari strategi untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham di tengah fundamental kinerja yang solid.
“Aksi korporasi buyback saham ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat keyakinan pasar terhadap nilai intrinsik Perseroan, sejalan dengan capaian kinerja yang solid sepanjang tahun lalu.” kata Direktur Utama JTPE, Allan Wibisono Oei.
Rencana tersebut akan lebih dulu dimintakan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 29 Mei 2026. Jika disetujui, pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung selama 12 bulan, mulai 1 Juni 2026 hingga 29 Mei 2027. Dalam pelaksanaannya di Bursa Efek Indonesia, perseroan menunjuk PT Mandiri Sekuritas sebagai perantara pedagang efek.
Dari sisi kinerja, langkah ini didukung oleh capaian keuangan yang impresif sepanjang 2025. JTPE mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 31% secara tahunan menjadi Rp2,78 triliun.
Laba bersih bahkan melonjak 48% menjadi Rp375,06 miliar. Kinerja tersebut mencerminkan keberhasilan strategi bisnis yang dijalankan, sekaligus menjadi landasan kuat bagi aksi buyback.
Perseroan mengalokasikan dana maksimal Rp200 miliar, termasuk biaya transaksi dan komisi, untuk membeli kembali hingga 339,7 juta saham atau setara maksimal 5% dari total saham beredar setelah memperhitungkan saham treasuri. Harga pembelian ditetapkan paling tinggi Rp850 per saham.
Seluruh pendanaan berasal dari kas internal, yang menurut manajemen telah diperhitungkan secara matang tanpa mengganggu likuiditas maupun operasional. Bahkan, pengurangan jumlah saham beredar diproyeksikan akan meningkatkan laba per saham (EPS), sehingga memberikan nilai tambah bagi investor dalam jangka menengah hingga panjang.
Selain itu, JTPE memastikan struktur kepemilikan publik tetap terjaga, dengan porsi free float tidak akan turun di bawah 15% dari total modal disetor. Hal ini penting untuk menjaga likuiditas perdagangan saham di pasar.
Manajemen menilai keseimbangan antara kondisi pasar dan kekuatan fundamental menjadi faktor kunci dalam menjaga pertumbuhan berkelanjutan.
“Manajemen meyakini bahwa keseimbangan antara dinamika pasar dan kekuatan fundamental Perseroan merupakan kunci utama dalam mendorong pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” ujar Allan.
Dengan kombinasi kinerja yang solid dan langkah buyback yang terukur, JTPE mengirimkan pesan tegas bahwa perseroan berada pada jalur pertumbuhan yang sehat, sekaligus berupaya meningkatkan kepercayaan investor di tengah dinamika pasar.




