Wahyu Tri Utomo Data, Scientist Big Data Continuum INDEF, memaparkan hasil analisis media sosial terkait persepsi publik terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I 2026. Analisis yang dilakukan menggunakan data dari Twitter dan Threads itu menunjukkan mayoritas masyarakat belum merasakan dampak nyata dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen.
Dalam pemaparannya di forum diskusi publik INDEF, Wahyu menyebut dari 12.352 percakapan yang dianalisis, sekitar 94,6 persen didominasi sentimen negatif dan netral terhadap kondisi ekonomi saat ini.
Mayoritas publik mempertanyakan mengapa pertumbuhan ekonomi yang tergolong tinggi belum terasa dalam kehidupan sehari-hari. Keluhan paling banyak muncul terkait sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK), hingga menurunnya daya beli masyarakat.
Menurut Wahyu, publik menilai pertumbuhan ekonomi saat ini lebih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman seperti Idulfitri serta pencairan THR. Dari persepsi tersebut, muncul istilah “pertumbuhan infus” yang menggambarkan anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi terjadi karena dorongan stimulus pemerintah, bukan dari aktivitas ekonomi organik masyarakat.
Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga barang akibat mahalnya impor bahan baku juga dinilai semakin menekan kondisi ekonomi rumah tangga. Wahyu mengatakan perhatian publik juga banyak tertuju pada isu capital outflow, dominasi tenaga kerja informal, serta kenaikan harga kebutuhan pokok.
“Banyak masyarakat merasa harus makan tabungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena pendapatan tidak meningkat sejalan dengan biaya hidup,” ujarnya.
Karena itu, Wahyu menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan memiliki makna besar apabila tidak diikuti penguatan daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan perbaikan kondisi ekonomi riil secara menyeluruh.
Menurutnya, keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakat dapat merasakan peningkatan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari.




