Tren penurunan harga minyak dunia mulai tercermin pada harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP). Setelah sempat melonjak akibat konflik di Timur Tengah, ICP pada Juni 2026 terkoreksi signifikan menjadi US$83,45 per barel dari US$106,56 per barel pada Mei 2026, seiring meredanya ketegangan geopolitik dan membaiknya pasokan minyak global.
Penurunan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 282.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan Juni 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pelemahan ICP terutama dipengaruhi oleh berkurangnya tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang sebelumnya memicu lonjakan harga minyak dunia.
“Angka ini mengalami penurunan signifikan sebesar US$22,50 per barel dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level US$106,56 per barel. Penurunan ini secara umum dipengaruhi oleh tensi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang cenderung mereda sepanjang bulan Juni,” ujar Laode dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/7).
Menurutnya, kesepakatan gencatan senjata dan pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap turut memperbaiki kelancaran distribusi minyak global. Kondisi tersebut meningkatkan keyakinan pasar terhadap ketersediaan pasokan sehingga menekan harga minyak di pasar internasional.
Dari sisi fundamental, pasar juga dibayangi oleh bertambahnya produksi minyak dari negara-negara OPEC+. International Energy Agency (IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak dunia hanya mencapai 1,1 juta barel per hari (bph), sementara sejumlah produsen utama, termasuk Rusia, meningkatkan produksi untuk memenuhi target OPEC+ tahun 2026.
Kondisi tersebut membuat hampir seluruh harga minyak acuan dunia bergerak melemah. Brent di ICE turun dari US$103,71 menjadi US$84,98 per barel, WTI di Nymex turun dari US$98,51 menjadi US$82,41 per barel, Dated Brent melemah dari US$107,55 menjadi US$86,13 per barel, sedangkan Basket OPEC turun dari US$114,55 menjadi US$91,03 per barel berdasarkan data hingga 28 Juni 2026.
Pemerintah memperkirakan tren penurunan masih berlanjut pada Juli 2026 dengan proyeksi ICP berada di kisaran US$67 hingga US$71 per barel. Namun, prospek tersebut tetap bergantung pada perkembangan geopolitik global dan keseimbangan antara pasokan serta permintaan minyak.
Laode mengatakan pemerintah akan terus mengawasi dinamika pasar energi internasional untuk menjaga stabilitas harga minyak nasional.
“Pemerintah terus memantau perkembangan pasar minyak internasional secara berkala guna memastikan kestabilan harga dan ketahanan energi nasional tetap terjaga dengan baik. Kami memastikan formula ICP tetap transparan mencerminkan dinamika pasar internasional agar tetap akuntabel bagi keuangan negara dan kegiatan usaha hulu migas,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah akan terus menjadikan perkembangan pasokan global, proyeksi permintaan, serta kondisi geopolitik sebagai indikator utama dalam penetapan ICP, mengingat ketiga faktor tersebut akan sangat menentukan arah pergerakan harga minyak mentah Indonesia.




