Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor Indonesia sepanjang periode Januari–Juli 2026 mencapai US$163,33 miliar, naik 19,94 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Sejalan dengan tren tersebut, nilai impor nonmigas turut mengalami kenaikan sebesar 16,78 persen menjadi US$137,56 miliar.
Sementara itu, khusus pada Juli 2026, nilai impor Indonesia tercatat sebesar US$26,09 miliar, atau naik 27,02 persen dibandingkan Juli 2025. Nilai impor nonmigas pada bulan yang sama juga mengalami peningkatan sebesar 23,83 persen menjadi US$22,33 miliar.
Dari sepuluh golongan barang utama nonmigas selama Januari–Juli 2026, golongan mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya mencatatkan peningkatan tertinggi, yakni senilai US$3,86 miliar atau tumbuh 22,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, golongan kendaraan dan bagiannya justru mengalami penurunan terbesar, yakni senilai US$0,54 miliar atau turun 8,44 persen.
Selama Januari–Juli 2026, tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ke Indonesia adalah Tiongkok dengan nilai US$58,29 miliar (42,38 persen), disusul Jepang senilai US$7,71 miliar (5,61 persen), dan Australia senilai US$6,47 miliar (4,70 persen). Sementara itu, impor nonmigas dari negara-negara ASEAN tercatat sebesar US$19,98 miliar (14,52 persen), dan dari Uni Eropa sebesar US$8,75 miliar (6,36 persen).
Berdasarkan golongan penggunaan barang, seluruh kategori impor tercatat mengalami peningkatan selama Januari–Juli 2026. Kenaikan terbesar terjadi pada golongan bahan baku/penolong, yang naik US$19,79 miliar atau setara 20,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, golongan barang modal naik US$5,41 miliar (20,00 persen), sementara golongan barang konsumsi naik US$1,96 miliar (16,03 persen).
Meski nilai impor tercatat mengalami kenaikan signifikan, neraca perdagangan Indonesia selama Januari–Juli 2026 tetap mencatatkan surplus sebesar US$3,70 miliar. Surplus tersebut berasal dari sektor nonmigas yang mencatatkan surplus sebesar US$22,45 miliar, sementara sektor migas mengalami defisit sebesar US$18,75 miliar.




