Nilai ekspor Indonesia pada Juni 2026 mencapai USD 25,46 miliar. Nilai ini meningkat 9,72 persen dibandingkan Mei 2026 (MoM) dan tumbuh 8,84 persen dibandingkan Juni 2025 (YoY). Kenaikan tersebut terutama ditopang ekspor nonmigas yang mencapai USD 24,39 miliar, atau naik 8,68 persen dibandingkan Mei 2026 (MoM) dan meningkat 9,46 persen dibanding Juni 2025 (YoY).
“Penguatan pada bulan Juni tersebut turut menopang kinerja ekspor nasional secara keseluruhan di paruh pertama tahun 2026 ini,” tulis keterangan Kementerian Perdagangan di Jakarta, Jumat (7/8/2026).
Secara kumulatif , sepanjang Semester I 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 140,81 miliar, meningkat 4,13 persen dibandingkan Semester I 2025 (CtC). Sementara itu, ekspor nonmigas mencapai USD 134,58 miliar, atau tumbuh sebesar 4,90 persen (CtC).
Sektor industri pengolahan mengukuhkan posisinya sebagai penopang utama ekspor nasional sepanjang Semester I 2026 dengan kontribusi sebesar 82,02 persen. Capaian tersebut diikuti oleh sektor pertambangan dan lainnya yang menyumbang sebesar 11,71 persen; sektor migas 4,43 persen; serta sektor pertanian yang berkontribusi sebesar 1,84 persen terhadap total ekspor Indonesia.
Baca juga : Perdagangan Nonmigas Juni 2026 Surplus Sebesar USD 3,04 Miliar
Sektor industri pengolahan menjadi satu-satunya sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif pada paruh pertama tahun 2026. Nilai ekspor industri pengolahan naik sebesar 7,37 persen (CtC), meningkat dari USD 107,57 miliar pada Semester I 2025 menjadi USD 115,50 miliar pada Semester I 2026.
Sementara itu, tiga sektor lainnya mengalami penurunan nilai ekspor. Sektor pertanian mengalami kontraksi paling dalam sebesar 22,55 persen (CtC) dari USD 3,34 miliar menjadi USD 2,59 miliar.
Sektor migas terkoreksi sebesar 10,11 persen (CtC), dari USD 6,93 miliar turun menjadi USD 6,23 miliar. Sedangkan sektor pertambangan dan lainnya menyusut sebesar 5,12 persen (CtC), dari USD 17,38 miliar menjadi USD 16,49 miliar.
Ditinjau dari pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi pada Semester I 2026, aluminium dan barang daripadanya (HS 76) mencatatkan lonjakan ekspor signifikan sebesar 73,93 persen, diikuti oleh nikel dan barang daripadanya (HS 75) tumbuh pesat 62,27 persen; bahan kimia organik (HS 29) naik 31,93 persen serta tembaga dan barang daripadanya (HS 74) menguat 29,03 persen.
Dari sisi negara tujuan, ekspor nonmigas terbesar pada Semester I 2026 masih ditujukan ke Tiongkok dengan nilai USD 34,56 miliar atau berkontribusi 25,68 persen terhadap total ekspor nonmigas. Selanjutnya AS sebesar USD 15,82 miliar (11,76 persen) dan India sebesar USD 9,25 miliar (6,87 persen).
Ketiga negara tersebut menyumbang 44,31 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia. Adapun ekspor nonmigas ke Hongkong mencatat lonjakan signifikan sebesar 39,12 persen pada Semester I 2026, disusul oleh Kamboja naik 31,42 persen dan Tailan naik 19,35 persen (CtC). Ekspor nonmigas ke beberapa kawasan seperti Asia Tengah; Asia Timur; Afrika Barat; Eropa Timur dan Afrika Selatan menunjukkan performa positif yang kuat selama periode Semester I 2026.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, capaian ekspor Juni 2026 dan Semester I 2026 tersebut menunjukkan produk Indonesia masih mampu menjaga daya saing di pasar internasional.
“Pertumbuhan ekspor pada Juni menjadi sinyal positif memasuki semester II 2026. Kami akan terus memperkuat penetrasi ke pasar-pasar utama sekaligus membuka peluang di pasar nontradisional agar ekspor Indonesia semakin berkelanjutan,” ungkap Mendag.




