Jumat, Agustus 21, 2026

Geopolitik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Berpeluang Tembus US$89

Must Read

Harga minyak kembali mendapat tenaga dari meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Ancaman Amerika Serikat (AS) untuk mengisolasi ekonomi Iran, ditambah gangguan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb, membuat pasar kembali memperhitungkan potensi tekanan terhadap pasokan minyak global.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Kamis (20/8/2026) menyatakan Washington akan memberlakukan sanksi terberat dalam sejarah terhadap Iran. Kebijakan tersebut disebut akan mencakup perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Bessent juga mendorong negara-negara lain, termasuk China, untuk bergabung dalam upaya mengisolasi ekonomi Teheran. Ancaman tersebut menjadi katalis bagi harga minyak karena meningkatkan risiko gangguan perdagangan energi dari kawasan Timur Tengah.

Tekanan geopolitik semakin terasa di jalur pelayaran strategis. Data pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis. Jumlah tersebut turun sekitar separuh dibandingkan hari sebelumnya.

Kondisi serupa terjadi di Selat Bab el-Mandeb. Kpler mencatat sebanyak 23 kapal komoditas melintas pada Kamis, turun dari 34 kapal pada masing-masing dua hari sebelumnya. Penurunan aktivitas pelayaran tersebut menjadi sinyal meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap risiko keamanan di jalur perdagangan energi.

Situasi di Yaman turut memperkuat sentimen bullish. Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Kolonel Majed Al-Nazili mengatakan pasukan pemerintah melancarkan 81 operasi militer terhadap kelompok Houthi dalam 24 jam terakhir.

Di sisi lain, Houthi mengklaim telah melancarkan dua serangan drone ke Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi Yahya Saree menyebut Bandara Najran dan fasilitas Aramco di Najran menjadi sasaran serangan.

Kombinasi ancaman sanksi terhadap Iran dan meningkatnya aktivitas militer di sekitar jalur pelayaran penting membuat risiko pasokan kembali menjadi perhatian utama pasar. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur strategis perdagangan minyak dunia, sehingga gangguan berkepanjangan dapat meningkatkan premi risiko pada harga komoditas tersebut.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan respons negara-negara terhadap kebijakan AS. Jika ketegangan terus meningkat, ruang penguatan harga masih terbuka.

Secara teknikal, harga minyak berpotensi menguji level resistance US$89 per barel. Namun, jika sentimen geopolitik mereda dan muncul katalis negatif dari sisi fundamental, harga berpeluang terkoreksi menuju support US$84 per barel.

Pasar kini menghadapi persimpangan antara risiko pasokan akibat konflik geopolitik dan potensi koreksi apabila ancaman tersebut tidak berujung pada gangguan nyata terhadap arus perdagangan minyak. Untuk sementara, eskalasi di Timur Tengah masih menjadi bahan bakar utama bagi penguatan harga minyak.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

NPI Triwulan II 2026 Defisit Menyusut, Ketahanan Eksternal Indonesia Tetap Terjaga

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2026 menunjukkan perbaikan signifikan di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img