PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mulai mempertebal strategi diversifikasi bisnis di tengah masih kuatnya kontribusi batubara terhadap kinerja perusahaan. Setelah membukukan lonjakan laba bersih 218% menjadi Rp2,65 triliun pada semester I 2026, PTBA kini menggeber hilirisasi, energi terbarukan, hingga optimalisasi aset pascatambang sebagai sumber pertumbuhan baru.
Sepanjang semester I 2026, pendapatan PTBA tercatat Rp22,03 triliun, tumbuh 8% secara tahunan. Perbaikan kinerja terutama ditopang pemulihan operasional pada kuartal II, peningkatan penjualan ekspor, serta kenaikan harga jual rata-rata batubara.
Produksi batubara PTBA mencapai 19,45 juta ton, sedangkan penjualan berada di level 21,10 juta ton. Dari jumlah tersebut, penjualan ekspor mencapai 10,33 juta ton atau naik sekitar 5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, dan Thailand menjadi pasar ekspor utama perseroan.
Sementara itu, penjualan domestik tercatat 10,77 juta ton atau sekitar 51% dari total penjualan.
Kinerja tersebut semakin tertopang oleh pergerakan harga batubara. Newcastle Index sepanjang semester I 2026 naik 25% yoy dan ICI-3 meningkat 15% yoy. Alhasil, average selling price (ASP) PTBA ikut terkerek 10% yoy.
Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan perseroan memanfaatkan momentum pemulihan harga batubara sembari menjaga efisiensi biaya.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan. Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya,” ujar Bambang.
Meski bisnis batubara masih menjadi mesin utama, PTBA mulai menyiapkan bantalan pertumbuhan agar kinerja perusahaan tidak semata bergantung pada siklus harga komoditas. Hilirisasi menjadi salah satu jalur yang ditempuh untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya batubara.
PTBA bersama mitra strategis saat ini mengeksplorasi pengembangan Dimethyl Ether (DME) dan metanol. Perseroan mengkaji proyek tersebut dari sisi teknologi, keekonomian, hingga skema bisnis guna memastikan pengembangan hilirisasi memiliki dasar komersial yang kuat.
Selain DME dan metanol, PTBA mengembangkan Kalium Humat, produk hasil pengolahan batubara yang berpotensi digunakan untuk mendukung sektor pertanian. Pilot plant Kalium Humat saat ini berkapasitas sekitar 171 ton per tahun dan ditargetkan meningkat hingga 10.000 ton per tahun.
“Hilirisasi menjadi salah satu fokus kami untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar. Kami melihat potensi yang luas dari sumber daya yang dimiliki PTBA untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, termasuk DME, Metanol, dan Kalium Humat,” jelas Bambang.
Langkah diversifikasi juga diarahkan ke bisnis energi terbarukan. PTBA menggandeng PT Pertamina New & Renewable Energy untuk menjajaki pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di lahan pascatambang dan sekitar wilayah operasional perseroan.
Pemanfaatan lahan pascatambang menjadi strategi penting karena memungkinkan aset yang sebelumnya terkait dengan aktivitas pertambangan dikembangkan menjadi sumber pendapatan baru. Hingga kini, total portofolio PLTS PTBA telah mencapai sekitar 1,2 MWp.
Di sisi bisnis inti, perseroan tetap memperkuat rantai pasok batubara. Proyek Tanjung Enim–Kramasan yang progresnya telah mencapai sekitar 93% menjadi salah satu proyek strategis untuk meningkatkan kapasitas angkutan sekaligus memperbaiki efisiensi logistik.
PTBA juga telah memperoleh komitmen pendanaan melalui Term Sheet dengan bank-bank Himbara berupa Senior Term Loan Facility hingga Rp3,56 triliun.
Selain itu, perseroan mempercepat pembangunan Coal Handling Facility (CHF) dan Train Loading Station (TLS) 6–7 pada jalur Tanjung Enim–Kramasan. Infrastruktur tersebut diharapkan memperkuat kapasitas angkutan dan pemuatan batubara sekaligus membuat rantai pasok lebih terintegrasi.
“Penguatan infrastruktur merupakan bagian dari strategi kami untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing bisnis. Kami terus mempercepat pengembangan proyek Tanjung Enim-Kramasan serta fasilitas CHF dan TLS 6–7 agar sistem logistik batubara semakin terintegrasi dan mampu mendukung kebutuhan pelanggan secara optimal,” kata Bambang.
PTBA selanjutnya akan terus membidik proyek baru di sektor hilirisasi, energi terbarukan, optimalisasi aset dan lahan pascatambang, serta bidang bisnis potensial lainnya. Namun, perseroan memastikan ekspansi dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan keekonomian, kesiapan teknologi, kepastian pasar, kebutuhan investasi, dan potensi sinergi.
“Prinsip kami adalah membangun bisnis yang sehat, memiliki prospek jangka panjang, dan memberikan nilai tambah bagi pemegang saham maupun pemangku kepentingan. Dengan memperkuat bisnis inti sekaligus mengembangkan bisnis baru, kami optimistis PTBA dapat terus tumbuh dan memberikan kontribusi bagi ketahanan energi serta perekonomian nasional,” tutup Bambang.




