Jumat, Oktober 16, 2026

Pasar Rumah Seken Terbelah, Makassar Naik 10,2% saat Semarang Terkoreksi

Must Read

Pasar rumah sekunder di Indonesia menunjukkan pergerakan yang semakin kontras. Ketika pertumbuhan harga secara nasional hanya 0,4% secara tahunan pada September 2026, Makassar justru mencatat kenaikan 10,2%. Sebaliknya, harga rumah seken di Semarang turun 0,5% dan Tangerang terkoreksi 0,1%.

Data Flash Report Oktober 2026 by Rumah123 menunjukkan, pertumbuhan harga rumah sekunder secara nasional masih tertinggal dari inflasi. Resale Price Index (RPI) hanya naik 0,1% secara bulanan dan 0,4% secara tahunan pada September 2026, sedangkan inflasi tahunan mencapai 3,3%.

Kesenjangan antara pertumbuhan harga rumah dan inflasi semakin lebar sepanjang kuartal III 2026. Pada Juli, RPI tumbuh 0,9% secara tahunan saat inflasi berada di level 2,9%. Pada September, pertumbuhan RPI turun menjadi 0,4%, sementara inflasi naik menjadi 3,3%.

Head of Research Rumah123 Marisa Jaya mengatakan, angka nasional perlu dicermati bersama perkembangan di masing-masing kota karena kondisi pasar tidak bergerak seragam.

“Pergerakan di tiap kota sangat berbeda: Makassar tumbuh dua digit, sementara Semarang dan Tangerang terkoreksi tipis. Karena itu, angka nasional perlu dibaca bersama data per kota,” ujar Marisa.

Selain Makassar, pertumbuhan harga rumah sekunder tertinggi berikutnya tercatat di Denpasar sebesar 3,5% dan Surakarta 3,3%. Sementara itu, Yogyakarta mencatat pertumbuhan 0%.

Secara keseluruhan, 10 dari 13 kota yang dipantau masih mencatat kenaikan harga tahunan pada September. Jumlah tersebut turun dari 11 kota pada Agustus, menandakan bahwa kenaikan harga tidak lagi terjadi seluas bulan sebelumnya.

Di sisi pasokan, volume listing rumah sekunder naik 0,5% dibandingkan Agustus 2026. Namun, secara tahunan, jumlah listing masih turun 13,6%. Kontraksi ini membaik dibandingkan minus 16,4% pada Juli, tetapi belum menunjukkan pemulihan pasokan ke level tahun lalu.

Pola permintaan juga memperlihatkan perubahan preferensi lokasi. Tangerang dan Jakarta Selatan masih mendominasi popularitas pencarian rumah dengan proporsi masing-masing 13,2%, diikuti Jakarta Barat sebesar 10,6%.

Namun, proporsi pencarian Jakarta Pusat meningkat 1,3 poin persentase dan Jakarta Utara naik 1 poin persentase dibandingkan September 2025. Pada periode yang sama, proporsi pencarian Tangerang dan Jakarta Timur turun masing-masing 0,9 poin persentase.

Marisa mengatakan, data harga, suplai, dan popularitas pencarian memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi pasar. Perbedaan tersebut penting diperhatikan oleh masyarakat maupun pelaku industri dalam menilai perkembangan properti di setiap wilayah.

Di tengah pertumbuhan harga nasional yang masih tertahan, disparitas antarkota menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan prospek pasar rumah sekunder ke depan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Opus Bay Investasi Resort Terintegrasi di Batam, Mulai Beroperasi Desember 2026

Batam bersiap memperkuat daya tariknya sebagai destinasi wisata dan bisnis melalui pengembangan Opus Bay, kawasan resort terintegrasi yang menggabungkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img