Rabu, Oktober 28, 2026

RedDoorz Andalkan AI untuk Tekan Keluhan Tamu, 4.900 Audit Hotel Digelar Sepanjang 2026

Must Read

RedDoorz memperkuat pengawasan kualitas hotel berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk menekan potensi keluhan tamu sekaligus menjaga konsistensi layanan di jaringan properti mitranya. Sepanjang 2026, perusahaan telah menjalankan 4.900 audit terhadap lebih dari 1.500 properti melalui sistem digital internal.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi RedDoorz untuk meningkatkan standar operasional di tengah pengelolaan jaringan hotel multi-brand. Perusahaan mengandalkan teknologi untuk mendeteksi persoalan lebih cepat, mengarahkan tindak lanjut kepada tim terkait, dan memastikan setiap temuan diselesaikan sesuai prosedur.

Sistem yang digunakan adalah Inspecto, platform audit properti yang dikembangkan secara internal dan mulai diterapkan sejak 2025. Sistem ini mencakup seluruh portofolio RedDoorz, termasuk RedDoorz, SANS, UrbanView, The Lavana, Sunerra, dan Mitra RedDoorz.

Audit dilakukan terhadap berbagai aspek operasional, mulai dari kebersihan kamar dan kamar mandi, ketersediaan amenitas, kondisi area sekitar hotel, hingga kepatuhan staf terhadap standar pelayanan. Seluruh proses berjalan secara digital atau paperless untuk mempermudah pencatatan dan pemantauan hasil pemeriksaan.

Setiap temuan audit akan diteruskan secara otomatis kepada tim yang bertanggung jawab. AI berperan mengelompokkan masalah dan menentukan jalur tindak lanjut, sedangkan penutupan temuan baru dapat dilakukan setelah perbaikan selesai dan diverifikasi.

SVP of Product & Data RedDoorz Nitin Vyas mengatakan, penerapan teknologi tersebut diarahkan untuk menjadikan kualitas layanan sebagai aspek operasional yang terukur sekaligus memiliki kaitan dengan kinerja bisnis.

“Kualitas harus dapat diukur, ditindaklanjuti, dan konsisten di setiap tahap pengalaman menginap tamu,” ujar Nitin dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).

Menurut dia, pemanfaatan AI membantu perusahaan mengenali persoalan kualitas serta memperkirakan dampaknya terhadap pendapatan. Dengan demikian, pengawasan tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi berlanjut hingga penyelesaiannya.

“Pemanfaatan AI dan teknologi secara lebih luas membantu kami untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan serta pengeluaran utama terkait kualitas, memprediksi dampaknya terhadap pendapatan, dan memastikan setiap masalah terselesaikan dengan penanggung jawab yang jelas serta proses yang transparan,” katanya.

RedDoorz juga mengintegrasikan ulasan tamu ke dalam RedPilot, instrumen berbasis AI yang ditujukan untuk membantu manajer hotel mengelola operasional. Melalui sistem ini, ulasan pelanggan dan hasil audit dapat diubah menjadi peringatan operasional maupun tiket tugas bagi staf.

Keluhan yang berulang mengenai kebersihan, kondisi kamar, proses check-in, layanan, dan fasilitas dapat digunakan untuk menentukan prioritas perbaikan. Strategi ini memungkinkan perusahaan mengidentifikasi masalah yang bersifat sistemik, alih-alih hanya menangani keluhan satu per satu.

Upaya penguatan kualitas tersebut turut tercermin pada properti yang dikelola langsung oleh RedDoorz. Perusahaan menyebut properti company-operated saat ini mencatat skor 9,2 dari maksimal 10 berdasarkan penilaian tamu melalui aplikasi RedDoorz dan platform mitra online travel agent (OTA).

Peningkatan tersebut didukung renovasi properti, pembaruan amenitas, penguatan standar keamanan dan operasional, serta pemanfaatan data dan AI untuk mengidentifikasi aspek layanan yang masih perlu diperbaiki.

Namun, pengelolaan kualitas tidak hanya mengandalkan teknologi. Sejak 2016, RedDoorz telah memberikan pelatihan operasional perhotelan dan standar layanan kepada lebih dari 40.000 staf hotel. Program peningkatan kompetensi terbaru yang diluncurkan pada akhir 2025 juga telah menjangkau lebih dari 250 staf.

Perusahaan turut menghadirkan Assured Stay, layanan tambahan opsional yang memungkinkan tamu mengajukan pengembalian dana sebesar 50% dari harga menginap apabila amenitas yang dijanjikan tidak tersedia atau kondisi kamar tidak sesuai dengan tampilan saat pemesanan.

Menurut RedDoorz, klaim layanan tersebut tercatat pada kurang dari 2% pemesanan Assured Stay. Setiap klaim yang telah divalidasi akan ditindaklanjuti dengan perbaikan di properti terkait.

Founder & CEO RedDoorz Amit Saberwal mengatakan, pemanfaatan AI perlu menghasilkan peningkatan nyata pada pengalaman pelanggan, bukan semata-mata efisiensi operasional.

“Dengan memadukan AI dan pengawasan manusia, masukan tamu yang dapat ditindaklanjuti, serta standar layanan yang lebih kuat, kami membangun sistem yang membantu mitra properti mengidentifikasi celah, menangani masalah lebih cepat, dan terus meningkatkan kualitas,” ujar Amit.

Ke depan, RedDoorz akan memperluas pemantauan kualitas berbasis AI, pelatihan staf, standar keselamatan, dan pengawasan operasional di seluruh jaringan hotelnya.

Bagi perusahaan dengan model bisnis multi-brand dan kemitraan properti, pengendalian kualitas menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan. Ketidakkonsistenan layanan ant hotel berpotensi memengaruhi ulasan tamu, reputasi merek, dan keputusan pemesanan berikutnya.

Karena itu, tantangan RedDoorz berikutnya bukan hanya memperluas penggunaan AI, melainkan memastikan rekomendasi sistem benar-benar diterjemahkan menjadi perbaikan operasional. Perusahaan belum mengungkapkan besaran penghematan biaya, kontribusi terhadap pertumbuhan pendapatan, maupun dampak penerapan AI tersebut terhadap profitabilitas bisnis.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Citi Perluas Cengkeraman di China, Siapkan Layanan Sekuritas Milik Penuh

Citigroup Inc. memperluas pijakan bisnisnya di China setelah memperoleh persetujuan regulator untuk mendirikan perusahaan sekuritas milik penuh, Citigroup Securities...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img