Moneter.co.id – Indonesia dan
Australia sedang menjajaki kerja sama bilateral untuk pemberlakuan tarif bea
masuk nol persen terhadap tiga komoditas unggulan dari masing-masing
negara.
Upaya yang terkait di
dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia ini
diharapkan memacu pertumbuhan industri kedua negara melalui perluasan pasar
ekspor.
“Kami akan pelajari
terlebih dahulu, karena ini merupakan pembahasan dari implementasi free trade
agreement. Jadi, harus diperhitungkan keuntungan dan kerugiannya,” kata Menteri
Perindustrian, Airlangga Hartarto, seusai menerima Duta Besar Australia untuk Indonesia,
Paul Grigson, di Jakarta, Kamis (12/10).
Menperin menjelaskan, Australia meminta kepada Indonesia agar tiga komoditasnya bisa
bebas bea masuk, yaitu susu (skim milk dan skim milk powder), copper cathode,
serta baja (hot rolled coil dan cold rolled coil). Sebagai gantinya, Australia memberi
tawaran bea masuk nol persen untuk tiga komoditas potensial Indonesia. “Mereka
menawarkan untuk ditukar dengan tekstil, alas kaki, dan pakaian, yang bea
masuknya juga menjadi nol persen,” ujarnya.
Airlangga menambahkan,
pembebasan bea masuk tersebut menjadi peluang besar bagi industri Indonesia
untuk terus tumbuh dan berkembang. Misalnya di sektor tekstil dan produk
tekstil (TPT).
“Saat ini,
Tiongkok dan Vietnam sudah dikenakan nol persen, sedangkan ekspor produk
tekstil Indonesia ke Amerika dan Eropa masih kena bea masuk 5-20 persen. Dengan
pembebasan bea masuk ini, industri kita akan semakin kuat,” ungkapnya.
Ia berharap,
kolaborasi ini dapat lebih meningatkan daya saing dan produktivitas bagi sektor
manufaktur nasional melalui penyediaan bahan baku berkualitas.
Pasalnya, selama
ini Indonesia masih banyak dikenakan tarif bea masu ke pasar tradisional
seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa. “Ini karena kita punya
daya saing tinggi, sehingga mereka pasang barikade juga,” jelasnya.
Industri TPT nasional
mampu menunjukkan daya saingnya di tingkat global. Pasalnya, sektor andalan ini
telah terintegrasi dari hulu sampai hilir dan produknya dikenal memiliki
kualitas yang baik di pasar internasional.
“Khusus untuk industri
shoes and apparel sport, kita sudah melewati Tiongkok. Bahkan, di Brazil, kita
sudah menguasai pasar di sana hingga 80 persen,” ucap Airlangga.
Sementara itu, Dirjen
Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin
Harjanto mengemukakan, pihaknya tidak akan langsung menyetujui usulan Australia
tersebut. Sebab, diperlukan perhitungan yang komprehensif agar bisa saling
menguntungkan.
Harjanto mengusulkan,
Australia bisa menggunakan skema user specific duty free scheme.
Artinya, preferensi tarif nol persen dapat diberikan jika ada investasi yang
masuk. Dengan demikian, masih ada nilai tambah dan Indonesia bisa melakukan
ekspor ke negara lain.
“Bahan baku boleh
saja dari mereka ke kita, akan tetapi investasi harus masuk sehingga ada
transfer teknologi. Dengan begitu walaupun kita masih impor bahan baku, tetapi
memiliki kemungkinan untuk ekspor produk turunannya,” ucapnya.
Australia merupakan
salah satu negara sumber investasi bagi Indonesia. Berdasarkan data BKPM periode tahun
2010-2015 menunjukkan realisasi investasi 2,1 miliar dollar AS terdiri dari
investasi di sektor pertambangan, kimia dasar dan infrastruktur.
Dari komitmen
investasi, tercatat sebesar 7,7 miliar dollar AS dari sektor industri logam,
properti dan sektor peternakan
Angka realisasi
investasi pada triwulan I tahun 2016 dari Australia tercatat sebesar 59,98 juta
dollar AS terdiri dari 131 proyek investasi dengan penyerapan tenaga kerja
mencapai 5.070 orang.
Secara keseluruhan
total investasi yang masuk triwulan pertama 2016 tercatat mencapai Rp146,5
triliun atau meningkat 17,6 persen dari periode sebelumnya sebesar Rp124,6
triliun.




