Moneter.co.id – Pemerintah berencana akan menurunkan tarif tol pada tahun
ini untuk mendorong angkutan logistik agar lebih murah. Rencana penurunan tarif
tol tersebut telah dikaji di tingkat kementerian.
Hal
ini merespons keluhan sejumlah kalangan pelaku usaha logistik, termasuk para
sopir logistik, yang enggan menggunakan jalan tol karena dinilai terlalu mahal.
Mereka lebih memilih jalan arteri biasa karena lebih murah dan gampang apa bila
ingin beristirahat.
Nantinya
ada beberapa opsi untuk menurun kan tarif tol, termasuk dengan penggabungan
golongan kendaraan besar yang identik dengan angkutan logistik.
Menteri
Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, penurunan tarif tol
ditujukan untuk mempermudah pelaku usaha termasuk sektor logistik. Terlebih lagi,
dalam waktu dekat akan ada momen Lebaran.
“Jadi,
golongannya nanti disimplifikasi. Kalau golongan yang berat ini turun, golongan
lainnya juga turun. Misalnya ada tarif di salah satu ruas tol di Jawa Timur
dari Rp180.000 akan menjadi Rp96.000. Jadi hampir separuhnya,” ujar Budi Karya
di, Jakarta, Kamis (22/3).
Menhub
bersama menteri terkait lain dan para pemangku ke pentingan lainnya, kemarin
bertemu dengan Presiden Joko Widodo untuk membahas rencana penurunan tarif tol.
Dalam
pertemuan tersebut, hadir Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Basuki Hadimuljono, Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT), serta operator jalan tol
yakni PT Jasa Marga Tbk, dan PT Astra Infra.
Menteri
Basuki mengatakan, Presiden sudah lama mendengar keluhan dari para sopir
logistik. Untuk itu, pihaknya juga sudah melakukan perhitungan ter kait keluhan
tersebut.
“Kita
mendengarkan keluhan sopir truk logistik itu bahwa dia misal ke Sumatera atau
Palimanan lebih banyak menggunakan jalan biasa dibanding tol. Karena dia orang
marketing kan. Ini kan kita untuk membantu marketing,” jelasnya.
Basuki
mengungkapkan, selama empat dekade ini tarif tol memang bervariatif bergantung
tahun pembangunan. Dia mencontohkan, tol yang dibangun antara tahun 1980-2000-an,
tarif ruas tol dari Jagorawi ke Palimanan Kanci Rp212-416 per km.
Tarif
tersebut berbeda dengan tol yang dibangun antara tahun 2000-2010 seperti tol
Ulujami dan Cipularang yang memiliki tarif dasar Rp709 per km.
“Pada
2011 untuk tol Suraba ya, Mojokerto, Bogor, Bali, ini tarifnya berkisar
Rp900-1.000 per km. Untuk 2015, yang baru ber operasi hingga 2018 nanti ini
Rp750-1.500 per km. Ini yang disebut mahal,” tuturnya.
Menurut
penilaiannya, ujar Basuki, tarif tol tersebut masih terbilang wajar karena mempertimbangkan
biaya konstruksi, pajak, dan bunga. Dia menambahkan, tarif tol juga bisa
diturunkan dengan instrumen lain yakni berupa per panjangan masa konsesi jalan
tol. Seperti diketahui, saat ini mayoritas jalan tol memiliki masa konsesi
sekitar 35-40 tahun. Nantinya akan diusulkan ada penambahan masa konsesi selama
15 tahun.
“Sekarang
kita coba penambahan masa konsesi ini menjadi 15 tahun artinya menjadi 50
tahun. Dengan begini (tarif tol) menjadi Rp1.000 per km,” ungkap Basuki.
Selain
itu, opsi lain yang mungkin dilakukan untuk penurunan tarif tol adalah
perubahan komposisi golongan ang kutan logistik. Dari sebelumnya terdapat
golongan II, III, IV, dan V menjadi hanya golong an II dan III.
“Sehingga
akan turun banyak itu yang dulunya Rp115.000-144.000 menjadi Rp96.000. Ini yang
dilaporkan dan beliau (Presiden) setuju menerapkan,” kata Basuki.
Tidak
hanya itu, kata Basuki, opsi penurunan tarif tol juga akan dilakukan dengan
menerapkan tax holiday untuk investasi bidang perintis, seperti tol Sumatera.
Menurutnya
dengan pem berian keringanan pajak, pembiayaan konstruksi akan lebih murah.
“Seperti di tol Sumatera ini kan tidak ada yang mau. Ini di kasih tax holiday
untuk konstruksi bisa menurunkan harga hingga Rp125 per km. ini untuk semua tol
yang baru nanti,” paparnya.
Sementara
itu, Direktur Utama PT Jasa Marga Desi Aryani mengatakan tidak mempermasalahkan
rencana penurunan tarif tol oleh pe merintah. Kebijakan tersebut diharapkan
dapat mendukung industri logistik sehingga lebih berdaya saing.
“Dengan
tarif dikurangi tetapi konsensi dipanjangin, kemudian klasternya dibikin
seperti itu dan IRR (Internal Rate of Return) nya tidak turun, kita support
sekali. Ini akan untuk meningkatkan keinginan logistik, meningkatkan dukungan
keberpihakan kepada logistik,” tuturnya.
Dengan
skema ini, kata dia, maka pemilik tol tidak akan mengalami kerugian. “Penurunan
tarif tol bisa mendorong para pelaku usaha bidang transportasi logistik beralih
ke jalan tol,” harap Desi.
(HAP)




