PT Mandiri Manajemen Investasi (Mandiri Investasi) mulai mengerek strategi di pasar modal dengan membidik tren investasi emas yang terus menguat. Manajer investasi tersebut resmi meluncurkan Reksa Dana Syariah Mandiri ETF Emas atau XMES, yang mulai diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Senin (10/8/2026).
XMES menjadi salah satu dari lima ETF emas yang kini tercatat di BEI. Kehadiran instrumen ini sekaligus menambah pilihan bagi investor yang ingin mendapatkan eksposur terhadap emas tanpa harus membeli, menyimpan, dan mengelola emas fisik secara langsung.
Direktur Utama Mandiri Investasi Hardiyanto Pilia mengatakan peluncuran XMES merupakan respons terhadap perubahan preferensi investor sekaligus upaya memperluas instrumen investasi berbasis aset riil di pasar modal.
“Emas sudah lama dikenal sebagai salah satu pilihan investasi masyarakat, dan kini akses terhadap investasi emas juga semakin beragam. Karena itu, tantangannya bukan lagi hanya bagaimana investor memiliki emas, tetapi bagaimana memberikan akses terhadap emas melalui instrumen yang efisien, transparan, dan sesuai dengan kebutuhan investor saat ini,” ujar Hardiyanto dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (11/8/2026).
Strategi Mandiri Investasi tersebut datang ketika emas semakin mendapat tempat dalam portofolio investor global. Berdasarkan kajian Mandiri Investasi per 30 Juni 2026, emas memberikan imbal hasil sekitar 9,9% per tahun dalam 20 tahun terakhir dan mencapai sekitar 18% per tahun dalam lima tahun terakhir.
Di saat yang sama, permintaan investasi emas global meningkat 84% menjadi 2.175 ton pada 2025. Namun, pertumbuhan produksi tambang emas hanya berada di bawah 1% per tahun dalam satu dekade terakhir. Kombinasi permintaan yang meningkat dan pasokan yang relatif terbatas menjadi salah satu fondasi optimisme Mandiri Investasi terhadap prospek aset tersebut.
Direktur Investasi Mandiri Investasi Ernawan R. Salimsyah mengatakan karakter emas yang berbeda dari instrumen investasi lain membuat komoditas tersebut tetap relevan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.
“Secara historis, emas memiliki karakteristik yang berbeda dibanding instrumen investasi lainnya dan cenderung lebih tahan ketika pasar mengalami tekanan. Karena itu, emas dapat menjadi salah satu pilihan untuk menyeimbangkan portofolio, khususnya bagi investor dengan perspektif jangka panjang,” jelas Ernawan.
Berbeda dari investasi emas fisik konvensional, XMES memungkinkan investor memperdagangkan unit reksa dana tersebut di pasar sekunder melalui mekanisme perdagangan seperti saham. Dengan begitu, investor bisa mendapatkan eksposur terhadap emas melalui bursa tanpa harus berhadapan langsung dengan kebutuhan penyimpanan emas fisik.
Dari sisi portofolio, XMES juga memiliki eksposur yang sangat dominan terhadap emas fisik. Minimum 95% dari nilai aktiva bersih (NAB) ditempatkan pada emas fisik, sedangkan maksimal 5% dialokasikan pada instrumen pasar uang syariah, deposito syariah, dan/atau kas serta setara kas sesuai ketentuan yang berlaku.
Emas yang menjadi underlying asset XMES memiliki tingkat kemurnian minimum 99,9% untuk emas bersertifikasi SNI atau minimum 99,5% untuk emas berstandar internasional LBMA Certified. Pengelolaan produk ini melibatkan Deutsche Bank A.G. Cabang Jakarta sebagai Bank Kustodian, PT Mandiri Sekuritas sebagai Dealer Partisipan, serta PT Pegadaian sebagai penyedia sekaligus penyimpan emas.
Mandiri Investasi juga mengemas XMES sebagai produk yang menyasar investor yang membutuhkan instrumen berbasis emas dengan karakteristik syariah. Produk tersebut diterbitkan dan dikelola berdasarkan prinsip syariah sesuai Fatwa DSN-MUI No. 163/DSN-MUI/VII/2025.
Ambisi Mandiri Investasi tidak berhenti pada peluncuran produk. Perseroan membidik dana kelolaan atau asset under management (AUM) XMES mencapai Rp1 triliun dalam jangka panjang. Target tersebut menunjukkan perseroan melihat ruang pertumbuhan ETF emas masih terbuka lebar seiring meningkatnya pemahaman investor terhadap instrumen tersebut.
Ernawan menegaskan pertumbuhan AUM akan dikejar secara bertahap agar ekspansi XMES tidak sekadar mengejar besarnya dana kelolaan.
“Kami menargetkan AUM XMES mencapai Rp1 triliun dalam jangka panjang. Namun, pertumbuhan tersebut harus dibangun secara sehat dan berkelanjutan. Bagi kami, keberhasilan XMES bukan hanya diukur dari besarnya dana kelolaan, tetapi juga ketika semakin banyak investor memiliki akses dan pemahaman yang lebih baik mengenai peran emas dalam portofolio mereka,” tutup Ernawan.
Masuknya XMES ke bursa menandai semakin sengitnya perebutan pasar investasi emas melalui instrumen pasar modal. Bagi Mandiri Investasi, tantangan berikutnya bukan sekadar mencatatkan produk baru, melainkan membuktikan bahwa ETF emas syariah mampu mengubah tingginya minat masyarakat terhadap emas menjadi pertumbuhan dana kelolaan yang berkelanjutan.




