Senin, Juni 22, 2026

Fintech Didorong Jadi Jembatan Inklusi Keuangan di Tengah Kesenjangan Akses Kredit

Must Read

Upaya memperluas inklusi keuangan di Indonesia masih menghadapi tantangan besar seiring dengan masih banyaknya masyarakat yang belum sepenuhnya terhubung dengan layanan keuangan formal. Di tengah meningkatnya kebutuhan pendanaan, akses kredit yang merata dinilai menjadi salah satu kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan White Paper yang dirilis Asosiasi Fintech Indonesia bersama Mandala Consulting bertajuk “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar”, masih terdapat kesenjangan signifikan dalam akses keuangan di Indonesia.

Data World Bank menunjukkan sekitar 48 persen penduduk dewasa masih tergolong underbanked, sementara Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Otoritas Jasa Keuangan mencatat tingkat inklusi perbankan baru mencapai sekitar 70 persen pada 2025. Artinya, masih ada sekitar 30 persen masyarakat dewasa yang belum sepenuhnya terlayani oleh sistem keuangan formal.

Direktur Utama PT Indonesia Fintopia Technology, Nucky Poedjiardjo, menegaskan bahwa penguatan inklusi keuangan menjadi salah satu prioritas utama perusahaan. Ia menilai kehadiran layanan keuangan digital, termasuk pinjaman daring (pindar) melalui Easycash, dapat membantu menjembatani kesenjangan akses kredit di masyarakat.

“Di tengah masih besarnya kebutuhan akses kredit, perluasan akses pendanaan harus berjalan beriringan dengan penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Oleh karena itu, Easycash berkomitmen untuk terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik, manajemen risiko, dan perlindungan konsumen sebagai fondasi dalam menghadirkan akses pendanaan yang luas bagi masyarakat,” ujar Nucky dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 di Jakarta.

Sejak berdiri pada 2017, Easycash yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan telah menyalurkan pendanaan kepada lebih dari 10 juta borrower dengan total akumulasi mencapai Rp96,67 triliun. Pertumbuhan ini menunjukkan meningkatnya peran platform pinjaman digital dalam menyediakan akses pembiayaan bagi masyarakat yang belum sepenuhnya terjangkau layanan perbankan.

Manfaat layanan tersebut juga dirasakan langsung oleh masyarakat, salah satunya Ifa Maria Ulfa, petani asal Jember, yang memanfaatkan pinjaman untuk modal usaha tani. Ia mengaku akses pendanaan yang cepat membantunya menjaga kelangsungan produksi saat mengalami keterbatasan modal.

“Dana yang saya dapatkan sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan pembelian pupuk saat modal sedang terbatas. Proses pencairannya cepat sehingga saya bisa tetap menjalankan usaha tani tanpa harus menunda kebutuhan produksi,” kata Ifa.

Menurutnya, akses tersebut tidak hanya membantu operasional usaha, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada pinjaman informal yang berisiko lebih tinggi saat kondisi keuangan mendesak.

Di sisi lain, Easycash terus memperkuat tata kelola perusahaan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan. Penguatan ini mencakup peningkatan fungsi pengawasan, manajemen risiko, kepatuhan, serta transparansi operasional, sejalan dengan implementasi POJK No. 40 Tahun 2024.

Nucky menegaskan bahwa tata kelola yang baik menjadi fondasi penting dalam membangun kepercayaan publik dan memastikan keberlanjutan bisnis. Ia juga menekankan bahwa perusahaan akan terus memperluas akses pembiayaan bagi segmen unbanked dan underbanked, sekaligus meningkatkan literasi keuangan melalui program edukasi seperti MOJANG (Modul Bijak Keuangan) dan platform ChatPindar.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Perth, Oase Tersembunyi di Australia Barat untuk Liburan yang Menenangkan

Pergeseran makna liburan di kalangan wisatawan modern kini semakin terasa. Perjalanan tidak lagi semata-mata tentang mengunjungi destinasi ikonik, melainkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img