Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Asian Society of Agricultural Economists (ASAE), Universitas Paramadina, dan sejumlah mitra menyelenggarakan The 12th International Conference of the Asian Society of Agricultural Economists (ASAE) pada 28–31 Oktober 2026 di Universitas Paramadina, Jakarta.
Mengangkat tema “Asian Agrifood System Transformation: Unfinished Agenda”, konferensi internasional ini mempertemukan ekonom pertanian, akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, praktisi, hingga perwakilan organisasi internasional dari berbagai negara. Forum tersebut menjadi wadah untuk membahas tantangan dan arah transformasi sistem pangan dan pertanian di kawasan Asia.
Sejumlah isu strategis menjadi pembahasan dalam konferensi ini, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani, ketahanan pangan dan gizi, perubahan iklim, hingga pemanfaatan inovasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan. Berbagai agenda digelar, di antaranya keynote speech, pleno, mini simposium, presentasi penelitian, serta lokakarya untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan kolaborasi lintas negara.
Dalam sambutannya, Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian tidak cukup hanya berorientasi pada peningkatan produksi maupun pencapaian swasembada pangan.
Menurut Didik, masih terdapat persoalan mendasar ketika produksi pertanian terus meningkat, tetapi jutaan petani belum menikmati kesejahteraan yang memadai. Karena itu, arah pembangunan pertanian ke depan harus lebih menitikberatkan pada peningkatan pendapatan petani dan kualitas kehidupan masyarakat perdesaan.
Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab ekonom pertanian tidak sebatas menghasilkan publikasi ilmiah. Hasil penelitian dan gagasan akademik harus mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kebijakan publik, perbaikan kelembagaan, serta peningkatan kesejahteraan petani.
Sementara itu, Presiden ASAE, Prof. Bustanul Arifin, mengatakan penyelenggaraan konferensi kali ini menjadi momentum penting karena merupakan kali kedua ASAE digelar di Indonesia setelah sebelumnya berlangsung di Bali pada 1996.
Pada konferensi tahun ini, ASAE menerima sekitar 190 abstrak penelitian dan menyetujui sekitar 110 abstrak untuk dipresentasikan. Sejumlah penelitian tersebut juga diarahkan untuk mendapatkan peluang publikasi di jurnal internasional, termasuk Asian Journal of Agriculture and Development (AJAD) dan Agribusiness.
Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, yang mewakili Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, menyampaikan keynote speech mengenai transformasi sistem agrifood di Indonesia.
Hanif memaparkan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada beras pada 2025 dengan produksi sebesar 34,89 juta ton atau meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, pemerintah membangun Cadangan Beras Pemerintah lebih dari 4 juta ton untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga sekaligus mengantisipasi potensi gangguan produksi.
Berdasarkan proyeksi neraca pangan 2026 yang dipaparkan dalam konferensi tersebut, delapan komoditas pangan diperkirakan mencatatkan surplus gabungan sekitar 4,69 juta ton. Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit.
Meski demikian, Hanif mengakui transformasi sistem pangan nasional masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya dampak perubahan iklim dan fenomena El Niño, gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik, serta kenaikan harga minyak dan pupuk. Indonesia juga masih memiliki ketergantungan impor terhadap sejumlah komoditas, seperti gandum, kedelai, gula, daging sapi, susu, dan keju.
Ia menegaskan transformasi sistem agrifood harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi, mulai dari produksi di tingkat usaha tani, pengolahan hasil pertanian, perdagangan, distribusi, logistik, hingga konsumsi, pemenuhan gizi, dan kesehatan.
Melalui konferensi ini, para pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dan menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis riset untuk mendorong sistem pangan Asia yang lebih tangguh, berkelanjutan, serta mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani maupun nelayan.




