Transformasi sektor pertanian di Asia dinilai perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga penguatan rantai nilai, inovasi teknologi, hilirisasi, serta kesejahteraan petani. Tantangan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Plenary Session 2 bertema “Asian Agrifood Systems Transformation” pada The 12th International Conference of the Asian Society of Agricultural Economists (ASAE) di Universitas Paramadina, Jakarta.
Konferensi yang berlangsung pada 28–31 Oktober 2026 ini diselenggarakan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Asian Society of Agricultural Economists (ASAE), Universitas Paramadina, dan sejumlah mitra penyelenggara lainnya.
Presiden ASAE, Prof. Bustanul Arifin, dalam paparannya menegaskan bahwa transformasi sistem agrifood harus melampaui aktivitas produksi di tingkat usaha tani. Menurutnya, kebijakan pertanian perlu mengintegrasikan kegiatan on-farm dan off-farm, memperluas pasar produk pertanian melalui pengolahan dan hilirisasi, serta memperkuat ketahanan pangan dan gizi, pemerataan, dan keberlanjutan lingkungan.
Bustanul juga menyoroti persoalan produktivitas sektor pertanian Indonesia. Berdasarkan penelitian yang didukung Asian Development Bank (ADB), produktivitas faktor total atau Total Factor Productivity (TFP) pertanian Indonesia mengalami penurunan dalam dua dekade terakhir, setelah sebelumnya sempat tumbuh hingga sekitar 2 persen.
Salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah rendahnya inovasi di sektor pertanian. Selain itu, mekanisasi pertanian di Indonesia dinilai masih cenderung bersifat defensif, yakni lebih banyak digunakan untuk menggantikan tenaga kerja yang semakin mahal dibandingkan dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan produktivitas.
Persoalan produktivitas juga menjadi perhatian Prof. Kei Kajisa dari Kyoto University yang memaparkan hasil penelitian jangka panjang mengenai pertanian padi di Central Luzon, Filipina.
Penelitiannya menunjukkan produktivitas padi mengalami stagnasi sejak awal 2000-an, meskipun petani telah mengadopsi berbagai varietas unggul baru. Kajisa mengidentifikasi tiga tantangan utama pertanian padi di kawasan Asia tropis, yaitu kelangkaan tenaga kerja di perdesaan, dampak perubahan iklim, serta emisi gas rumah kaca dari kegiatan budidaya padi.
Terkait perubahan iklim, Kajisa menjelaskan bahwa kenaikan suhu minimum pada fase reproduktif tanaman dapat berdampak pada penurunan hasil panen. Karena itu, pengembangan varietas padi tahan panas dan teknologi adaptasi iklim dinilai lebih menjanjikan dibandingkan hanya mengandalkan kompensasi melalui kenaikan harga hasil pertanian.
Sementara itu, Prof. Jikun Huang dari China Center for Agricultural Policy mengangkat potensi pemanfaatan teknologi digital untuk mendorong transformasi sektor pertanian di Tiongkok.
Ia memaparkan berbagai penerapan teknologi, mulai dari penggunaan drone, rumah kaca pintar, aplikasi perdagangan digital, hingga layanan pembiayaan berbasis data. Pemanfaatan teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus efisiensi transaksi bagi petani.
Meski demikian, penerapan teknologi digital masih menghadapi sejumlah kendala, seperti rendahnya literasi digital, keterbatasan akses pembiayaan, serta ketimpangan kemampuan petani dalam memanfaatkan teknologi.
Huang menekankan bahwa inovasi digital di sektor pertanian harus mampu menjawab kebutuhan nyata petani, mudah diakses, serta disertai penguatan kapasitas pengguna. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi simbol modernisasi, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi peningkatan efisiensi dan pendapatan petani.
Berbagai pandangan dalam Plenary Session 2 tersebut memperlihatkan bahwa transformasi sistem agrifood di Asia membutuhkan pendekatan yang terintegrasi. Penguatan inovasi, peningkatan produktivitas, adaptasi perubahan iklim, serta pemanfaatan teknologi digital menjadi sejumlah agenda penting untuk membangun sektor pertanian yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.




