Transformasi sistem pangan global masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kelaparan, malnutrisi, perubahan iklim, hingga keterbatasan akses masyarakat terhadap pangan sehat.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Plenary Session 1 bertema “Transforming Global Agri-Food System” pada The 12th International Conference of the Asian Society of Agricultural Economists (ASAE) di Universitas Paramadina, Jakarta.
Konferensi yang berlangsung pada 28–31 Oktober 2026 ini diselenggarakan oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Asian Society of Agricultural Economists (ASAE), Universitas Paramadina, serta sejumlah mitra penyelenggara lainnya. Mengusung tema “Asian Agrifood System Transformation: Unfinished Agenda”, forum ini mempertemukan para pakar dan pemangku kepentingan untuk membahas arah pembangunan sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Dalam Plenary Session 1 mengangkat tema “Transforming Global Agri-Food System” dengan menghadirkan Prof. Matin Qaim (University of Bonn), Prof. Prabhu Pingali (Cornell University), dan Prof. Keijiro Otsuka (Kobe University).
Prof. Matin Qaim menyoroti bahwa sistem pangan global saat ini belum berkelanjutan dan masih menghadapi persoalan kelaparan serta malnutrisi.
Sekitar 650 juta orang di dunia masih mengalami kelaparan kronis, sementara lebih dari 2,6 miliar orang tidak mampu mengakses pangan sehat dengan harga terjangkau. Tantangan tersebut semakin kompleks akibat perubahan iklim, gangguan perdagangan global, dan pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dibandingkan peningkatan pasokan.
Qaim menekankan pentingnya peningkatan produktivitas berkelanjutan melalui inovasi teknologi, pengembangan varietas tanaman, pertanian presisi, serta penguatan riset dan pengembangan.
Selain itu, ketahanan pangan tidak dapat disamakan begitu saja dengan swasembada, mengingat perdagangan internasional tetap berperan penting dalam memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi sejumlah negara.
Sejalan dengan hal tersebut, Prof. Prabhu Pingali menekankan perlunya transformasi pola konsumsi dari pangan berkalori tinggi menuju pangan yang lebih bergizi, sehat, dan berkelanjutan.
Ia memperkenalkan pendekatan 4 I’s sebagai landasan transformasi sistem pangan, yaitu Innovation, Infrastructure, Incentives, dan Institutions. Keempatnya mencakup penguatan riset dan teknologi, pembangunan infrastruktur rantai dingin dan penyimpanan, perbaikan insentif kebijakan, serta penguatan kelembagaan petani dan koperasi.
Sementara itu, Prof. Keijiro Otsuka mengangkat persoalan semakin kecilnya rata-rata luas lahan pertanian di Asia dan perubahan hubungan antara skala usaha tani dengan produktivitas.
Menurutnya, peningkatan upah tenaga kerja dan perkembangan mekanisasi membuat skala ekonomi semakin penting dalam kegiatan pertanian. Oleh karena itu, penguatan pasar sewa lahan menjadi salah satu agenda penting agar petani dapat mengoptimalkan pemanfaatan lahan dan meningkatkan efisiensi produksi.




