Senin, Juli 20, 2026

Pemerintah Prioritaskan 60% Gas Blok Masela untuk Kebutuhan Domestik

Must Read

Pemerintah memastikan mayoritas produksi gas dari Lapangan Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan energi dan industri di dalam negeri. Sedikitnya 60% produksi gas proyek strategis nasional tersebut dialokasikan bagi pasar domestik, sementara porsi ekspor dibatasi maksimal 40% guna memperkuat ketahanan energi sekaligus mendukung program hilirisasi.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut telah disampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto menjelang peletakan batu pertama Proyek LNG Abadi Masela di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7).

“Kita akan alokasikan produksi gas Blok Masela 60 persen minimal untuk memenuhi kebutuhan domestik dan 40 persen maksimal untuk kita melakukan ekspor. Di mana sebagian kita akan memakai untuk hilirisasi daripada PT Pupuk yang berencana akan membangun industri hilirisasi di sini,” ujar Bahlil.

Menurutnya, pasokan gas domestik tidak hanya akan menopang pengembangan industri pupuk, tetapi juga memenuhi kebutuhan sektor ketenagalistrikan dan jaringan gas nasional. Langkah ini diharapkan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dibandingkan apabila seluruh produksi diarahkan ke pasar ekspor.

“Setelah pupuk, kemudian kita akan menyerahkan sebagian kepada PLN, PGN, dan beberapa perusahaan swasta yang sekaligus untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka mendorong penciptaan nilai ekonomi di daerah,” lanjutnya.

Kementerian ESDM bersama SKK Migas memastikan alokasi gas untuk pasar domestik tersebut telah dimasukkan ke dalam Plan of Development (PoD) Lapangan Abadi. Kebijakan ini disiapkan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan gas bumi nasional, terutama bagi sektor industri, pupuk, dan pembangkit listrik.

Lapangan Gas Abadi Blok Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional yang berada sekitar 180 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena di Laut Arafura, dengan kedalaman laut berkisar 400 hingga 800 meter. Wilayah kerja ini memiliki kontrak bagi hasil (PSC) yang berlaku sejak 1998 hingga 2055.

Dalam rencana pengembangannya, Blok Masela ditargetkan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun (MTPA), 150 juta kaki kubik standar gas pipa per hari (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari. Fasilitas proyek akan mencakup sistem produksi bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa gas sepanjang sekitar 175 kilometer, hingga kilang LNG di darat.

Pemerintah juga mendorong penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam pengembangan proyek tersebut guna menekan emisi karbon dan mendukung agenda transisi energi nasional.

Dengan skema alokasi tersebut, Blok Masela diharapkan menjadi penopang pasokan gas nasional sekaligus tetap menghasilkan devisa dari ekspor LNG. Namun, realisasi pemanfaatannya akan bergantung pada penyelesaian pembangunan fasilitas produksi, kesiapan infrastruktur pengolahan, serta kemampuan sektor industri dalam menyerap pasokan gas domestik.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

RISE Bidik Recurring Income Lewat Proyek Resort Mewah VASA Ubud Senilai Rp1 Triliun

PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) mempercepat ekspansi di bisnis hospitality dengan menggarap proyek resort mewah VASA Ubud...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img