Memasuki usia 40-an, banyak perempuan mulai mengalami perubahan seperti siklus menstruasi yang tidak teratur, sulit tidur, mudah lelah, suasana hati yang berubah, hingga kenaikan berat badan.
Setelah melahirkan, banyak perempuan justru lebih fokus menjalankan berbagai peran sebagai ibu, istri, maupun profesional sehingga sering kali mengabaikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya. Padahal, mengenali dan memahami perubahan tubuhnya merupakan langkah penting agar perempuan dapat menjalani proses penuaan dengan sehat, nyaman, dan bahagia.
Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan perempuan, Primaya Hospital menyelenggarakan seminar “Jangan Malu, Saatnya Bicara Perimenopause” berkolaborasi dengan Yoona Women, Martha Tilaar SPA dan Blibli. Menghadirkan dokter spesialis dari berbagai disiplin ilmu serta praktisi, seminar ini membahas perimenopause secara menyeluruh, mulai dari perubahan hormonal, kesehatan fisik dan mental, nutrisi, kulit, olahraga, hingga pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan agar perempuan dapat menjalani masa transisi dengan lebih sehat dan percaya diri.
Perimenopause umumnya terjadi pada rentang usia 40–50 tahun, ketika banyak perempuan sedang berada pada puncak karir sekaligus menjalankan berbagai peran dalam keluarga. Pada fase ini, perubahan kadar estrogen dan progesteron tidak hanya mempengaruhi sistem reproduksi, tetapi juga kesehatan tulang dan otot, metabolisme, kualitas tidur, kesehatan mental, fungsi kandung kemih, hingga kondisi kulit dan rambut.
CEO Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali, CFA, FRM, mengatakan bahwa perempuan membutuhkan pendampingan kesehatan yang menyeluruh karena perubahan selama perimenopause tidak hanya berkaitan dengan hormon, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan.
“Perimenopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan, namun bukan berarti harus dijalani dengan rasa tidak nyaman. Banyak perempuan belum menyadari bahwa perubahan yang mereka rasakan merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola melalui edukasi dan pendampingan medis yang tepat. Yang terpenting, perempuan tidak perlu merasa khawatir secara berlebihan hingga melakukan over treatment, tetapi memahami kapan harus berobat dan mendapatkan pertolongan agar tidak tidak terlambat. Melalui pendekatan multidisiplin, kami ingin membantu perempuan memahami kapan perlu berkonsultasi dengan tenaga medis agar tetap sehat, percaya diri, dan produktif di setiap fase kehidupannya .” ujar Leona.
Dalam seminar tersebut, Dr. dr. Martina Hutabarat, Sp.OG, menjelaskan bahwa perimenopause merupakan fase transisi menuju menopause yang ditandai dengan fluktuasi hormon estrogen dan progesteron. Rata-rata perempuan mulai memasuki fase ini pada usia sekitar 47,5 tahun, sementara menopause umumnya terjadi pada usia 51,3 tahun. Dengan angka harapan hidup perempuan yang mencapai sekitar 85 tahun, hampir sepertiga kehidupannya akan dijalani pada fase klimakterik sehingga penting untuk mengenali perubahan tersebut sejak dini.
Berbagai keluhan tersebut dapat dikelola melalui pendekatan medis yang tepat sesuai kondisi masing-masing perempuan. dr. Feliani, Sp.Ak menjelaskan bahwa akupuntur medis kini sejalan dengan perkembangan medis, dapat membantu menyeimbangkan dan mengembalikan vitalitas tubuh.
Selain perspektif medis, seminar ini juga menghadirkan pengalaman langsung dari perempuan yang pernah menjalani fase perimenopause. Bagi Susanna Angraini, CEO & Co-Founder Yoona Women, keterbukaan dalam membicarakan pengalaman tersebut menjadi langkah awal agar lebih banyak perempuan memahami perubahan yang terjadi pada tubuhnya.
“Perimenopause mengajarkan saya bahwa perubahan seperti tubuh yang lebih sensitif, stamina yang menurun, hingga leaky bladder adalah hal yang nyata dialami banyak perempuan. Sayangnya, isu perimenopause dan menstruasi masih sering dianggap tabu. Karena itu, kita perlu mulai membuka percakapan agar perempuan tidak merasa sendirian dan lebih memahami tubuhnya. Berangkat dari semangat tersebut, Yoona hadir untuk mendukung perempuan melalui edukasi sekaligus menghadirkan produk yang lebih aman digunakan setiap hari, seperti pembalut yang bebas klorin.”
Dari sisi nutrisi, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK., Subsp.PK menekankan pentingnya pola makan bergizi seimbang untuk menjaga metabolisme, massa otot, serta menurunkan risiko penyakit kronis selama perimenopause.
Sementara itu, Dr. dr. Komang Ardi Wahyuningsih, M.Biomed., Sp.KKLP., Subsp. FOMC menjelaskan bahwa perubahan hormon juga berdampak pada kesehatan kulit dan rambut. Penurunan estrogen menyebabkan produksi kolagen dan elastin berkurang sehingga kulit menjadi lebih tipis, kering, dan kehilangan elastisitas. Bahkan, sekitar 30% kolagen kulit dapat hilang dalam lima tahun pertama setelah menopause, kemudian terus berkurang sekitar 2% setiap tahun. Sementara itu, rambut dapat menjadi lebih tipis akibat memendeknya fase pertumbuhan rambut. Kondisi ini dapat dikelola melalui perawatan yang tepat sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Senada dengan hal tersebut, Wulan Maharani Tilaar, President Director Martha Tilaar SPA, mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase untuk merawat diri secara holistik agar tetap sehat, bahagia, dan percaya diri.
Tidak hanya membahas aspek medis, seminar ini juga menyoroti pentingnya aktivitas fisik dan kesehatan mental. dr. Gustiawaty Army, Sp.KFR mengungkapkan bahwa sekitar 72,9% perempuan menopause mengalami gangguan dasar panggul yang dapat memengaruhi kualitas hidup. Menurutnya, aktivitas fisik yang dilakukan secara rutin dan bertahap berperan penting dalam menjaga kekuatan otot, kesehatan tulang, serta membantu mengurangi berbagai gejala perimenopause.
Selain perubahan fisik, perempuan pada masa perimenopause juga menghadapi perubahan emosional yang sering kali bertepatan dengan berbagai tantangan kehidupan, mulai dari tuntutan pekerjaan, anak yang mulai mandiri, orang tua yang menua, hingga perubahan pada tubuh dan hubungan sosial.
“Perimenopause bukan membuat perempuan menjadi lebih sensitif tanpa sebab. Perubahan suasana hati yang dialami merupakan respons alami akibat perubahan hormon yang sering kali terjadi bersamaan dengan berbagai tekanan hidup. Karena itu, penting bagi perempuan untuk mengelola stres melalui langkah sederhana seperti metode STOP (Stop sejenak, Tarik napas perlahan, Observasi, dan Pilih respons yang membantu). Jika gejala mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau kualitas hidup, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Perimenopause adalah fase kehidupan yang normal, bukan penyakit,” tutur dr. Leonita Ariesti Putri, Sp.KJ., MSc.
Menutup sesi diskusi, Lisa Widodo, COO & Co-Founder Blibli, mengajak perempuan memandang perimenopause sebagai fase yang dapat dijalani tanpa mengurangi produktivitas. “Perimenopause bukan akhir dari produktivitas perempuan. Ketika kita memahami bahwa perubahan fokus, suasana hati, atau brain fog merupakan bagian dari proses biologis yang dapat dikelola, kita bisa berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai beradaptasi. Dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, serta dukungan keluarga dan lingkungan kerja, perempuan tetap dapat berkarya, memimpin, dan berkembang di setiap fase kehidupannya,” tutup Lisa.
Melalui seminar ini, Primaya Hospital berharap semakin banyak perempuan berani membicarakan perimenopause secara terbuka, mengenali perubahan tubuh sejak dini, serta mendapatkan pendampingan medis yang tepat agar tetap sehat, aktif, dan produktif di setiap fase kehidupan.




