Moneter.co.id – PT
Regio Aviasi Industri (RAI) terus melakukan pengembangan pesawat R80 agar bisa
sukses secara komersil. Terkait hal itu, perusahaan membutuhkan biaya
sekitar USD1 miliar atau sekitar Rp13 triliun (kurs Rp13.000/USD).
Komisaris PT RAI Ilham Akbar Habibie mengatakan,
uang USD1 miliar bukan merupakan biaya pembuatan satu pesawat. Tapi, lebih ke
persiapan ongkos teknisi dan desain.
“Itu bukan untuk satu pesawat ya. Development
cost itu kita bayar engineer untuk buat desain. Membuat pesawat ini ada
materialnya dengan ini kita pasang jadi pesawat kan beda sekali,” ujarnya
di Jakarta, Rabu (11/10).
Ilham menyampaikan, proyek perusahaan sudah resmi masuk ke dalam Proyek Strategis
Nasional (PSN), seiring diterbitannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 58
Tahun 2017 tentang Proyek Strategis Nasional.
Dalam Perpres tersebut mencantumkan 248 proyek
yang masuk program Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional yang salah
satunya pesawat R80.
Untuk melancarkan proyek pengembangan, Ilham
menjelaskan, pihaknya butuh partner strategis yakni perusahaan yang juga mampu
membuat pesawat. Sebab, karakter industri aviasi beda dengan lainnya, didanai
dari investor.
“Jadi sekali lagi saya terangkan, di pesawat
itu bukan investor investasi. Enggak pernah, dia itu pasti perusahaan yang juga
buat pesawat, dia nanti ambil bagian,” katanya.
Tidak adanya investasi karena lamanya waktu
mendapatkan imbal hasil atau keuntungan. Pengembangan pesawatnya saja sudah
memakan waktu 5-6 tahun.
Pengembangan pesawat yang butuh waktu lama inilah
salah satu faktor keraguan investor masuk ke pendanaan sektor penerbangan.
“Di samping itu, ada proses pembuatan hingga mendapatkan sertifikasi
penerbangan,” pungkas Ilham.




