Rabu, Mei 20, 2026

PLTS Atap Kian Diminati Hotel Bali untuk Efisiensi dan Ketahanan Energi

Must Read

Tren wisata berkelanjutan mulai mengubah arah investasi sektor perhotelan di Bali. Di tengah meningkatnya perhatian wisatawan terhadap isu lingkungan dan ketahanan energi, sejumlah hotel premium di Pulau Dewata mempercepat penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap sebagai bagian dari strategi bisnis jangka panjang.

Langkah tersebut terlihat dari rampungnya proyek PLTS atap berkapasitas sekitar 323 kilowatt-peak (kWp) di salah satu resor internasional premium di Bali yang dikembangkan bersama Greenvolt Power Indonesia. Kehadiran proyek ini memperkuat tren pemanfaatan energi terbarukan di sektor akomodasi dan pariwisata.

Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia, Bobby Benly, mengatakan perubahan strategi tersebut tidak hanya dipicu oleh kebutuhan efisiensi biaya, tetapi juga dorongan pasar yang semakin kuat terhadap praktik bisnis berkelanjutan.

“kami melihat adanya pergeseran struktural dalam strategi sektor perhotelan memandang energi. Ini bukan lagi sekadar soal efisiensi biaya, melainkan tentang ketahanan energi, pemenuhan standar global, serta menjawab ekspektasi wisatawan yang semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam memilih destinasi maupun akomodasi,” ujar Bobby.

Menurut dia, penggunaan PLTS atap membantu hotel mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis bahan bakar fosil sekaligus menciptakan sistem energi yang lebih stabil di tengah ketidakpastian global.

Dorongan terhadap pariwisata berkelanjutan juga tercermin dari hasil riset Sustainable Travel 2025 milik Booking.com. Dalam survei yang melibatkan 32.000 wisatawan dari 34 negara tersebut, sebanyak 93% responden mengaku aktif mempertimbangkan opsi perjalanan yang lebih ramah lingkungan ketika menentukan tujuan wisata.

Kondisi itu membuat pelaku industri hotel di Indonesia menghadapi tekanan dari berbagai arah, mulai dari perusahaan induk global, investor, regulator, hingga wisatawan yang kini semakin peduli terhadap aspek keberlanjutan.

Di sisi lain, Bali memiliki tantangan besar terkait ketahanan energi. Pulau ini masih bergantung pada suplai listrik dari luar daerah, sementara pertumbuhan kebutuhan listrik diperkirakan mencapai 14% hingga 16% per tahun.

Padahal, potensi energi surya di Bali tergolong besar. Data Institute for Essential Services Reform (IESR) menyebut potensi PLTS di Bali mencapai 3,3 hingga 10,9 gigawatt. Namun hingga 2025, tingkat pemanfaatannya masih berada di bawah 1%.

Pemerintah Provinsi Bali sendiri terus mendorong percepatan penggunaan energi bersih. Sejak 2019, pemerintah daerah telah menerbitkan regulasi yang mendukung pemanfaatan PLTS atap di berbagai sektor, termasuk industri pariwisata.

Gubernur Bali Wayan Koster menilai kemandirian energi menjadi kebutuhan strategis bagi Bali di tengah keterbatasan sumber daya energi fosil.

“Bali mandiri energi tidak bisa ditawar lagi. Ini soal kedaulatan dan masa depan pulau kita, yang notabene tidak memiliki sumber daya alam batu bara ataupun migas lainnya. Salah satu solusi nyata yang bisa segera dilakukan adalah pemanfaatan PLTS atap secara masif,” ujar Koster.

Pelaku industri menilai adopsi energi terbarukan di Bali kini tidak lagi sekadar bagian dari program keberlanjutan perusahaan, tetapi telah menjadi strategi untuk menjaga daya saing sektor pariwisata di tengah perubahan perilaku wisatawan global dan gejolak pasar energi dunia.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

J&T Express Pacu Logistik Hijau Lewat AI dan Kendaraan Rendah Emisi

J&T Express mempertegas komitmennya terhadap keberlanjutan dengan merilis Laporan Environmental, Social and Governance (ESG) 2025 yang memuat berbagai langkah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img