Senin, April 27, 2026

Suku Bunga Acuan Naik Lagi, Ini Alasan Bank Indonesia

Must Read

Moneter.co.id – Bank Indonesia (BI)
memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan alias BI 7-Day Reverse Repo Rate
sebesar 25 bps menjadi 4,75%. Ini merupakan kenaikan kedua yang dilakukan BI
dalam satu bulan terakhir.

Gubernur Bank Indonesia Perry
Warjiyo menjelaskan, ada beberapa alasan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar
0,25%.

“Kebijakan ini
sebagai langkah pre-emptive, front-loading, dan ahead of the curve Bank Indonesia untuk memperkuat stabilitas
khususnya stabilitas nilai tukar terhadap perkiraan kenaikan suku bunga AS yang
lebih tinggi dan meningkatnya risiko di pasar keuangan global,” ucap Perry,
Rabu (30/05).

Baca
juga:

RDG BI Putuskan Suku Bunga Acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate Naik Jadi 25 Bps

BI
meyakini kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan cukup baik dan kuat.

“Tekanan terhadap
stabilitas sejak awal Februari lebih karena tren kenaikan suku bunga AS dan
meningkatnya ketidakpastian global akibat perubahan kebijakan AS dan sejumlah
risiko geopolitik. BI akan terus mengkalibrasi perkembangan baik domestik
maupun global untuk memanfaatkan masih adanya ruang untuk kenaikan suku bunga
secara terukur,” kata Perry.

Perry
melanjutkan, keputusan kenaikan suku bunga tersebut merupakan bagian dari
langkah kebijakan jangka pendek BI yang memprioritaskan kebijakan moneter pada
stabilitas khususnya untuk nilai tukar rupiah.

“Respons kebijakan suku bunga
akan tetap ditempuh secara pre-emptive,
front-loading, dan ahead of the curve untuk stabilisasi
nilai tukar rupiah, di samping tetap konsisten dengan upaya menjaga inflasi
2018-2019 agar terkendali sesuai sasaran,” ujarnya.

Perry
melanjutkan, intervensi ganda atau dual
intervention
di pasar valas dan di pasar surat berharga negara (SBN) terus
dioptimalkan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah. BI melakukan penyesuaian
harga di pasar keuangan secara wajar, dan menjaga kecukupan likuiditas di pasar
uang.

“Strategi operasi moneter
diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang rupiah dan
pasar swap antar bank,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Perry, BI
juga melakukan komunikasi yang intensif kepada para pelaku pasar, perbankan,
dunia usaha, dan para ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional sehingga
dapat memitigasi kecenderungan nilai tukar rupiah yang terlalu melemah atau overshooting dibandingkan dengan level
fundamentalnya.

 

 

(HAP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Grand Indonesia Jadi Lokasi LEGO® Store Terbesar di Asia Tenggara

EGO® Group Indonesia, bekerja sama dengan MAP Active, meresmikan pembukaan LEGO Certified Store terbarunya di lantai 5 Grand Indonesia...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img