Moneter.id
– Tahun 2021 atau Tahun Kerbau Logam katanya disebut
sebagai tahunnya untuk bekerja keras dan disiplin. Siapa yang kerja
keras, sabar, dan disiplin, bakal kaya raya. Sebaliknya, yang
bermalas-malasan, akan merugi.
Selain
bekerja, kalian disarankan juga untuk berinvestasi, agar duit yang
dimiliki tidak cepat habis, bahkan malah bertambah.
Berdasarkan proyeksi dari Bahana TCW Investment Management, IHSG akan moncer
pada tahun 2021 mendatang dengan perkiraan berada di level 6.800.
Kepala
Makro ekonomi dan Direktur Strategi Investasi Bahana TCW Investment
Management, Budi Hikmat mengatakan, terdapat beberapa faktor
penyebab IHSG ke level tersebut.
“Pertama,
penyaluran stimulus dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang telah mencapai
78%. Ditunjukkan dari jumlah uang beredar atau M1 growth naik sebesar 17,6% di September 2020.
Kondisi ini juga memacu harga komoditas,” ucapnya belum lama ini.
Faktor kedua,
katanya, adanya sinyal pertumbuhan kredit mulai naik. Pada bulan kesembilan,
tumbuh positif 0,12% dibanding pertumbuhan kredit pada kuartal II-2020. “Ketiga,
aliran dana asing masuk meningkat pasca terpilih Joe Biden sebagai Presiden
Amerika Serikat (AS),” ujar Budi.
Kemudian,
faktor keempat, lanjutnya, kurs rupiah terhadap dolar AS menguat.
“Sekarang berada di kisaran Rp 14.130 per dolar AS dan diproyeksi bakal di
bawah Rp 14.000 di akhir tahun,” paparnya.
Faktor kelima,
menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan membaik di tahun depan. BI
memperkirakan 4,8-5,8% pada 202. “Terakhir, distribusi vaksin Covid-19 juga
akan menjadi sentimen penguatan IHSG di tahun depan,” katanya lagi.
“Pasar
obligasi dan saham berpotensi menguat. Jika yield obligasi
turun, maka investasi saham akan meningkat karena proyeksi imbal hasil yang
lebih bagus,” prediksi Budi.
Sementara,
Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee merekomendasikan beberapa
saham dari berbagai sektor yang menarik untuk dikoleksi pada tahun 2021. Pertama,
saham pada sektor pertambangan seperti, PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT
Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Timah Tbk (TINS), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT
Adaro Energy Tbk (ADRO) serta PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG).
Kedua,
sektor keuangan, khususnya perbankan dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk /
Bank BRI (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk / Bank BNI (BBNI), PT Bank
Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk / Bank BCA (BBCA).
Ketiga,
sektor properti seperti, PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), PT Pakuwon Jati
Tbk (PWON) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Keempat,
sektor telekomunikasi seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
“Di
2021, harga komoditas akan naik, termasuk batubara, nikel untuk produksi
baterai kendaraan mobil listrik. Tren bunga menurun, sehingga properti akan
bergerak ke atas dan sektor keuangan, yang selalu jadi andalan ketika ada
koreksi pasar,” jelas Hans.




