Moneter –
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK
Migas) optimistis dapat mencapai target volume produksi minyak dan gas bumi
yang siap untuk dijual atau lifting sebesar
703 ribu barel minyak per hari (BOPD) dan 5.800 juta standar kaki kubik gas per
hari (MMSCFD) pada tahun 2022.
“Entry point tahun 2022 hanya berkisar 660 ribu
BOPD, namun pihaknya tetap optimis dapat mencapai target asalkan para pekerja
SKK Migas dapat melakukan langkah-langkah yang tidak biasa,” kata Kepala SKK
Migas Dwi Soetjipto, Selasa (21/12)
“Kita tidak lagi bisa menjalankan business as usual,” tegasnya.
Hingga November 2021, kinerja lifting minyak mencapai 657 ribu BOPD atau 93,2
persen dari target sebesar 705 ribu BOPD. Sementara itu, lifting gas mencapai 5.492 MMSCFD atau 97,4
persen dari target 5.638 MMSCFD.
SKK Migas memproyeksikan outlook akhir
tahun ini dapat mencapai 660 ribu BOPD atau 93,6 persen untuk minyak dan 5.505
MMSCFD atau sebesar 97,5 persen untuk gas.
“Nilai penerimaan negara dalam 11 bulan terakhir dari
bisnis hulu migas telah mencapai 12,55 miliar dolar AS setara Rp182 triliun
atau 172 persen dari target 7,28 miliar, cost recovery tercatat
sebesar 6,55 miliar dolar AS, dan reserve
replacement ratio mencapai 102,3 persen dari target,” ujar
Dwi.
Untuk penerimaan negara, kata Dwi, meski mengalami
tantangan COVID-19 outbreak yang
terjadi pada semester I 2021. Kami bersyukur harga minyak dunia berangsur naik,
sehingga pada akhir 2021 dapat kami proyeksikan penerimaan negara akan mencapai
13,92 miliar dolar AS setara Rp202 triliun atau hampir dua kali lipat dari
target APBN.
Saat ini, SKK Migas telah mendapatkan minat dari
beberapa investor tentang pengembangan migas non konvensional (MNK) dan juga chemical Enhanced Oil Recovery (EOR). Selain
itu, pemerintah telah menetapkan langkah-langkah strategis untuk mendukung
capaian produksi nasional minyak dan gas bumi pada 2030.
Dwi menyampaikan bahwa dukungan pemerintah terutama
Kementerian ESDM terhadap industri hulu migas masih sangat besar di tengah
gencarnya perubahan tren dunia yang mengarah pada penggunaan energi baru
terbarukan.
“Dukungan pemerintah itu terealisasi dalam pemberian
insentif baik fiskal maupun non fiskal untuk tetap menjaga gairah investasi hulu
migas,” tambah Dwi.




