Senin, Maret 2, 2026

Kemenperin Kembangkan Arang Bambu Jadi Komponen Baterai

Must Read

Moneter.id – Kementerian
Perindustrian melalui Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri menghasilkan
riset dan inovasi yang mampu menjadikan arang bambu sebagai komponen baterai.

“Jadi, arang
bambu sebagai pengganti grafit pada komponen baterai. Bambu yang digunakan
adalah bambu betung yang merupakan potensi alam yang ada di Kalimantan
Selatan,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI)
Kemenperin Ngakan Timur Antara di Jakarta, Selasa (14/8).

Menurut
Ngakan, selama ini komponen baterai kering yang umum digunakan berasal dari
bahan grafit. Sementara grafit merupakan mineral tambang alam yang bersifat
tidak dapat diperbaharui.

Potensi tambang grafit di Indonesia terdapat di Pulau
Sumatera dengan sisa produksi tambang sekitar
2
juta ton atau dengan luasan area 30 hektare,” ungkapnya.

Maka itu,
untuk mengurangi konsumsi karbon yang bersumber dari mineral alam, perlu dicari bahan baku yang bersifat lestari, seperti
bambu. “Bambu sebagai tanaman yang dapat dibudidayakan yang memiliki waktu
tanam sekitar 4-5 tahun. Selain itu,
bambu memiliki komponen
lignoselulosa tinggi sehingga kadar karbon dan oksigen melebihi 90% dari berat
keseluruhan,” ujar Ngakan.

Arang bambu
dibuat melalui metode pirolisis, yaitu bambu
dikarbonisasi pada suhu 500-600oC dengan menggunakan peralatan
khusus. Selanjutnya, arang yang dihasilkan diaktivasi memakai bahan kimia asam
dan basa serta
diberikan tambahan logam untuk menaikkan kapasitas
listriknya. Logam yang digunakan adalah logam seng (Zn) dan nikel (Ni).

“Kemudian, dibuat partikel nano menggunakan high energy mechanic (HEM) berbasis Ball Mill. Karbon yang dihasilkan diuji struktur dan sifatnya menggunakan
Pressure Swing Adsorption (PSA), Scanning Electron Microscopy (SEM),
X-ray diffraction (XRD), dan konduktivitas,” jelasnya.

Ngakan
meyakini, arang bambu akan mempunyai nilai atau kapasitas listrik yang lebih
optimal apabila dapat dibentuk partikel ukuran nano. Pada tahap ini, masih
dilakukan pengembangan lanjutan.

“Daya Hantar Listrik
(DHL) paling tinggi diperoleh pada arang bambu betung dengan aktivator KOH dan
di-dopping oleh logam Zn dengan nilai
DHL 7,02 mS/cm,” imbuhnya.

Potensi
pengembangan bahan baku baterai ini seiring pula dengan tingginya penggunaan smartphone atau gadget lain. Merujuk
data Kementerian Komunikasi dan Informatika, konsumen smartphone di Indonesia pada tahun 2018 akan melampaui 100 juta
orang atau menjadi negara pengguna aktif ponsel pintar terbesar ke empat di
dunia.

Ia
menjelaskan, digitalisasi teknologi menjadi ciri dari masuknya sebuah negara ke
era digital, termasuk Indonesia. Apalagi, Indonesia merupakan pangsa pasar yang
sangat besar dengan total penduduk hingga 267 juta orang.  

“Untuk itu,
kita perlu menjadi tuan di negeri sendiri dengan menggunakan produk dan
komponen lokal,” papar Ngakan.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

BCA Alokasikan Dana Tunai Rp65,7 Triliun Guna Penuhi Kebutuhan Transaksi Ramadan dan Idulfitri 2026

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyatakan kesiapannya dalam mendukung kelancaran transaksi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri 2026....
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img