Moneter.id – Perusahaan pengukuran global, Nielsen merilis pembelian online untuk bahan makanan kemasan dan segar telah melonjak hingga 15% dalam dua tahun terakhir, dengan peningkatan kepercayaan konsumen dalam ekosistem pembelian online yang mengarah pada pembelian sejumlah kategori produk yang lebih luas.
The 2018 Nielsen Connected Commerce Report, yang melihat kebiasaan pembelian online
konsumen,
melaporkan bahwa
95% dari konsumen
global yang memiliki akses ke internet telah melakukan pembelian secara online, naik 1% dibandingkan tahun 2017 dan 2%
dibandingkan dengan tahun 2016.
Laporan ini juga mengungkapkan 26%
konsumen digital membeli bahan makanan segar secara online, meningkat sebesar 15% antara tahun 2016 dan 2018, yang
berkontribusi terhadap pertumbuhan e-commerce
FMCG
secara keseluruhan,
dimana Nielsen memperkirakan meningkat sekitar USD 70 miliar secara global dalam dua tahun terakhir.
Pete
Gale, Retailer Services, Nielsen mengatkan, dari pelacakan evolusi e-commerce di negara-negara perintis seperti Korea Selatan di mana penjualan online sekarang secara mengejutkan menyumbang 20% dari total sektor FMCG,
kami tahu bahwa konsumen mengikuti pola perilaku belanja online tertentu.
“Perjalanan (travel), fesyen dan buku adalah kategori yang khas untuk pembeli daring pertama kali, namun seiring meningkatnya tingkat pengenalan, kenyamanan, dan kepercayaan konsumen, daftar kategori mereka meluas ke area seperti kecantikan, perawatan pribadi, dan produk bayi, dan kemudian bergerak lebih luas lagi ke kategori makanan kemasan dan segar. Ini dibuktikan dengan lompatan signifikan yang telah kami lihat dalam pembelian online pada pengiriman bahan makanan dan makanan jadi dalam beberapa tahun terakhir,” ujar Pete Gale.
Laporan
Nielsen ini mengungkapkan bahwa konsumen lebih terbuka untuk membeli bahan makanan kemasan dan segar secara online bila mereka ditawarkan opsi pembelian dan jaminan kualitas tertentu.
Hampir setengah (49%) konsumen mengatakan bahwa jaminan uang kembali untuk produk yang tidak sesuai dengan yang dipesan akan mendorong mereka untuk membeli secara online. 45% konsumen tertarik dengan layanan penggantian produk pada hari yang sama untuk produk yang tidak tersedia, sementara 44% mencari layanan pengiriman gratis untuk pembelian di atas pembelanjaan minimum.
Fesyen dan Travel, Produk Favorit Dibeli Konsumen Indonesia Secara Online
Kategori e-commerce yang kuat, seperti fesyen, travel, dan buku terus mencatat proporsi transaksi online
terbesar
(61%, 59% dan 49% masing-masing yang dibeli konsumen dalam tiap kategori).Sementara itu, kategori-kategori yang
mencatat pertumbuhan
paling signifikan dalam aktivitas e-commerce di antaranya adalah jasa pengantaran makanan dari restoran, di mana 33%
konsumen online mengatakan mereka melakukan pembelian ini (naik 2pt vs 2017),
bahan makanan dalam kemasan (naik 3 poin hingga 30%) dan bahan maknaan segar (naik 2pt ke 26%).
Di Indonesia sendiri, lebih dari setengah konsumen melakukan pembelanjaan online
untuk kategori produk Fesyen (63%) danTravel (62%). Pilihan layanan tertentu yang ditawarkan oleh setiap penjual online pun merupakan daya tarik tersendiri bagi konsumen untuk berbelanja.
Lima puluh tujuh
persen konsumen
Indonesia menyatakan bahwa jaminan uang kembali bagi produk yang tidak sesuai pesanan menarik mereka untuk berbelanja online. Sebanyak 52 persen menyatakan tertarik dengan layanan penggantian produk pada hari yang sama jika produk yang dipesan tidak tersedia. 49 persen konsumen juga terdorong untuk berbelanja online
jika terdapat layanan pengiriman gratis
untukpembelian di atas jumlah pembelanjaan tertentu.
Sementara, Agus Nurudin, Managing Director, Nielsen
Indonesia, mengatakan, dengan meningkatnya adopsi konsumen dalam pembelian online,
ruang e-commerce
yang terus berkembang telah mengaburkan garis antara online dan offline.
“Beberapa tahun yang lalu, pembelian e-commerce terfokus pada barang-barang yang tidak tahan lama seperti perjalanan, fesyen, dan buku, namun seiring waktu kami melihat peningkatan pembelian di seluruh kategori baru,” tambah Agus.
Kedepan, lanjut Agus, gelombang evolusi berikutnya dalam perilaku pembelian online kemungkinan akan didorong oleh inovasi dalam kemampuan digital seperti rekomendasi yang dipersonalisasikan berdasarkan konsumsi terprogram dan perilaku online dari konsumen.




